Kamis, 30 April 2009

Pejantan Kampung 5

Hari Minggu itu sebenarnya Azis sedikit malas dengan permintaan ayahnya agar Azis mengantar Bu Yuli, ibu tirinya, istri ketiga ayahnya, kondangan ke kampung sebelah. Karena Bu Yuli, orangnya sangat judes. Bu Yuli, wanita muda yang sebenarnya lebih tepat menjadi kakaknya, karena usianya
hanya setahun lebih tua dari Azis, tidak begitu akrab dengan Azis.

Tapi karena menghormati ayahnya, Azis melangkahkan juga kakinya ke rumah ibu tirinya, yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sampai dirumah Bu Yuli, Azis mendapati rumah dalam keadaan sepi, dia nyelonong aja masuk dan duduk di ruang tamu yang berdekatan dengan kamar Bu Yuli.

Sekitar tiga puluh menit menunggu, Bu Yuli keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya, hanya mengenakan selembar handuk yang dililitkan ditubuhnya. Sehingga Azis sekilas dapat melihat paha mulus Ibu Tirinya.

Sebagai laki-laki normal dan sudah biasa bersetubuh dengan wanita, nafsu birahi Azis bergejolak disuguhi pemandangan seperti itu. Tanpa berpikir panjang lagi Azis mengikuti langkah ibu tirinya ke kamar.

Bu Yuli yang sedang berdiri sambil melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya sama sekali tak menyangka kalau Azis ikut masuk ke kamarnya. Bu Yuli sangat terkejut saat Azis memeluk dengan kuat tubuhnya yang telanjang bulat sambil menciumi lehernya dari belakang.

Bu Yuli berteriak keras, tetapi dengan cekatan tangan Azis yang kuat membekap mulutnya. Azis mendorong tubuh ibu tirinya keranjang hingga jatuh dan terlentang lalu menindihnya. Bu Yuli memberontak tapi sia-sia, Azis terlalu kuat baginya. Dengan mudah Azis meringkusnya. Azis menyumpal mulut Bu Yuli dengan handuk yang tadi dikenakannya. Azis menelikung kedua tangan Bu Yuli kebelakang dan menahan dengan kuat kedua kaki Bu Yuli dengan kakinya.

Bu Yuli mulai putus asa dan menangis. Azis tahu kalau Bu Yuli sudah kehabisan tenaga, dengan santai Azis melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian Azis mulai menciumi dan menjilati kedua buah dada Bu Yuli, secara bergantian.

Cukup lama Azis menjilati kedua buah dada ibu tirinya, kini wajahnya merangkaki perut Bu Yuli, dengan mulut yang terus menjilati, tangannya meraba-raba selangkangan dan mencucuk-cucuk lubang vagina Bu Yuli yang menggunduk.

Sesaat kemudian Azis memindahkan jilatannya keselangkangan Bu Yuli. Kedua tangannya membuka lebar-lebar kedua paha Bu Yuli. Bu Yuli hanya pasrah saat Azis menjilati pangkal pahanya. Bahkan Bu Yuli yang sangat jarang disentuh suaminya, ayah Azis, mulai terangsang dan mendesah-desah, saat lidah Azis menyapu dan menjilati bibir vagina yang merah merekah dan berbulu lebat.

Perlahan Bu Yuli merasakan lubang vaginanya mulai basah. Azis yang tahu kalau Bu Yuli sudah terangsang, semakin bersemangat menjilati dan menyedot-nyedot klitoris Bu Yuli. Nafas Bu Yuli ngos-ngosan menahan nafsu birahinya. Azis sangat lihai merangsang Bu Yuli. Membuat suasana menjadi terbalik. Kini Bu Yuli sudah tak sabar lagi menunggu Azis untuk segera menyetubuhinya.

Beberapa saat kemudian Azis menyudahi jilatannya pada vagina Bu Yuli. Dia kemudian berjongkok diselangkangan Bu Yuli. Bu Yuli yang sudah tak sabar lagi meraih dan mengocok-ngocok penis Azis, kemudian Bu Yuli mengarahkan penis Azis ke lubang vaginanya. Bu Yuli menjerit saat merasakan kepala penis Azis mendesak gerbang vaginanya. Azis semakin keras mendorong pantatnya hingga seluruh batang penisnya yang besar dan panjang masuk ke lubang vagina Bu Yuli.

Bu Yuli menjerit dan mendesah-desah saat penis Azis menggesek-gesek lubang vaginanya. Bu Yuli menyodok-nyodokkan dan meliuk-liukkan pantatnya menyambut gerakkan naik turun pantat Azis. Sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya, azis melepaskan handuk yang menyumpal mulut Bu Yuli. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke mulut Bu Yuli dan melumat mulut Bu Yuli. Bu yuli menyambut lumatan Azis dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.

"Oohh.. Ziss.. teruss.. genjott.. akuu," desah Bu Yuli tanpa malu-malu.

Bu Yuli semakin cepat menyodok-nyodokkan dan meliuk-liukkan pantatnya, saat dia merasakan seluruh otot-otot tubuhnya menegang. Dan merasakan sesuatu yang mendesak-desak ingin keluar dari lubang vaginanya. Tangannya mencengkeram kuat pinggang Azis saat saat orgasmenya datang. Cairan
hangat merembesi dinding-dinding vaginanya. Beberapa saat kemudian Azis merasakan hal yang sama, dia seperti orang gila, tubuhnya bergerak liar dan dia semakin cepat menyodok-nyodok lubang vagina Bu Yuli. Mulutnya meracau, mengeluarkan kata-kata kotor.

Azis menekan dada Bu Yuli dengan kuat dan menyusul menyemprotkan spermanya ke dalam lubang vagina Bu Yuli. Kemudian tubuh Azis terkulai lemas, menindih tubuh Bu Yuli.

Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit, Bu Yuli merasakan nafsu birahinya bangkit lagi. Bu Yuli mendorong tubuh Azis yang menindihnya hingga terlentang diranjang. Kemudian Bu Yuli duduk di samping Azis yang masih tertidur pulas. Tangannya meraba-raba selangkangan Azis dan mengelus-elus penis Azis. Perlahan penis Azis mulai menegang. Tanpa melepaskan penis Azis dari genggamannya, Bu Yuli menundukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya keselangkangan Azis. Mulut Bu Yuli terbuka dan mulai menjilati dan mengulum batang penis Azis. Dari kepala hingga pangkal penis Azis dijilati dan dikulumnya. Buah pelir Azis juga diseruputnya.

Azis terbangun dari tidurnya dan tersenyum ke arah Bu Yuli yang sedang asyik mengulum penisnya. Sesaat kemudian Bu Yuli menyudahi kulumannya pada penis Azis. Kemudian Dia berjongkok di selangkangan Azis, diraihnya penis Azis dan ditempelkannya kebibir vaginanya. Sedikit demi sedikit Bu Yuli menurunkan pantatnya. Hingga seluruh batang penis Azis amblas tertelan lubang vaginanya.

Azis mendesah-desah penuh nikmat saat Bu Yuli mulai menggerakkan pantatnya naik turun diselingi gerakkan berputar. Keadaan sudah sangat terbalik, Bu Yuli yang tadi menolak disetubuhi kini lebih agresif. Dan Bu Yuli semakin cepat menggoyang pantatnya saat dia merasakan puncak kenikmatan benar-benar sudah dekat. Dibarengi teriakkan panjang Bu Yuli mencapai orgasmenya.

Bu Yuli sebenarnya sudah sangat lelah saat Azis menyuruhnya berdiri menghadap ke dinding kamar. Tapi karena tidak mau membuat Azis kecewa dan marah, maka Bu Yuli menuruti permintaan Azis. Azis kemudian mendekat ke arah Bu Yuli yang sedang berdiri lalu berjongkok dibelakang Bu Yuli. Azis meraba-raba dan meremas-remas pantat Bu Yuli yang padat dan kenyal. Kemudian Azis memasukkan jari telunjuknya ke lubang anus Bu Yuli.

Bu Yuli mendesah saat Azis menciumi dan menjilati lubang anusnya. Jilatan lidah Azis pada lubang anusnya, membuat Bu Yuli merasa geli dan perlahan nafsu birahinya bangkit lagi. Bu Yuli menggelinjang saat lidah Azis mencucuk-cucuk lubang anusnya.

Puas menjilati lubang anus Bu Yuli, Azis kemudian berdiri sambil mengarahkan penisnya ke lubang anus Bu Yuli. Bu Yuli menjerit keras saat penis Azis memaksa menembusi lubang pantatnya. Bu Yuli merasakan bibir dan dinding anusnya panas dan perih.

Bu Yuli melolong lebih keras saat Azis mendorong dan menarik pantatnya, membuat penis Azis keluar masuk dari lubang anusnya. Azis sangat menikmati sempitnya lubang anus Bu Yuli yang memang belum pernah disodomi.

Dengan memegang erat pinggang Bu Yuli, Azis semakin cepat mendorong-dorong pantatnya saat dirasakannya orgasme sudah dekat. penis Azis berkedut-kedut, otot-otot tobuhnya menegang, nafasnya memburu.

Dan Azis menjerit keras dan panjang saat mencapai orgasme. Dia menyemprotkan sperma yang sangat banyak dilubang anus Bu Yuli. Sambil mencabut penisnya dari lubang anus Bu Yuli, Azis menyuruh Bu Yuli berjongkok di depannya. Azis mendekatkan penisnya kewajah Bu Yuli.

Bu Yuli mengeleng-gelengkan kepala, menolak permintaan Azis, untuk menjilati sisa-sisa spermanya. Azis tak kehilangan akal. Azis mencekek leher Bu Yuli dan memencet hidungnya. Saat Bu Yuli yang kesulitan bernafas terpaksa membuka mulutnya, Azis langsung menyodokkan penisnya dan
menjejalkannya ke mulut Bu Yuli.

Bu Yuli merasa mual dan mau muntah tetapi dia tak berani menolak permintaan Azis. Bu Yuli menggerakkan bibirnya dan menjilati sisa-sisa sperma Azis sampai bersih tak tersisa. Azis tersenyum bangga bisa menundukkan Bu Yuli, ibu tirinya yang selama ini kurang menyukainya dan sangat Judes.

Dan sejak saat itu Bu Yuli sangat baik padanya. Bu Yuli tak pernah menolak apapun yang diinginkan Azis termasuk kalau Azis ingin menikmati kemolekan tubuhnya. Bahkan Bu Yuli yang seringkali merayu agar Azis mau menyetubuhinya. Kehebatan Azis memuaskannya di atas ranjang, membuat Bu Yuli betul-betul ketagihan merasakan nikmatnya sodokkan penis Azis yang besar dan panjang.

Bersama Azis, anak tirinya, Bu Yuli betul-betul menemukan dan merasakan kenikmatan yang sangat jarang dia dapatkan dari Pak Broto, suaminya yang juga ayah Azis. Azis membuatnya tergila-gila dan dia mau melakukan apa saja yang Azis inginkan.

Jika nafsu birahi sedang memuncak, Bu Yuli tak segan-segan datang kerumah Azis untuk meminta Azis menyetubuhinya. Dia sudah tak perduli lagi kalau Azis adalah anak tirinya.

Bahkan sebulan kemudian dengan alasan suasana kampung yang semakin rawan, Bu Yuli meminta kepada Pak Broto agar mengijinkan Azis tinggal bersamanya. Tujuan sebenarnya tak lain, agar dia bisa lebih sering bisa mereguk kenikmatan bersama Azis. Dan tanpa curiga sedikitpun Pak Broto meluluskan keinginan istri termudanya. Pak Broto sama sekali tidak tahu kalau istri mudanya disetubuhi anak kandungnya. Diusianya yang sudah tua, dia tidak mampu lagi memuaskan nafsu istri mudanya yang sedang meledak-ledak.

Demikianlah kisah Azis si Pejantan Kampung, yang benar-benar perkasa dan berhasil menyetubuhi wanita-wanita dikampungnya, terutama istri-istri yang kesepian.

E N D

Pejantan Kampung 4

Setelah mengantarkan Titi kerumahnya, sekitar jam 01.00 dinihari, Azis balik lagi ketempat pertunjukkan. Karena saking senangnya nonton dangdut, Azis tak merasa kelelahan berjalan. Walaupun dia baru saja bersetubuh dengan Titi.

Saat berjalan melewati kebun pisang, Azis kebelet pingin kencing. Segera saja Azis masuk ketengah-tengah rimbunnya pohon pisang. Sehabis kencing Azis menyalakan rokoknya sambil matanya melihat sekelilingnya.

Tiba-tiba matanya tertuju pada bayangan yang sedang bergerak-gerak yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri. Azis yang merasa penasaran, berjalan mengendap-endap, mendekati bayangan itu.

Sekitar dua meter dari bayangan itu, Azis menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak melihat pemandangaan disela-sela pohon pisang, di depannya. Dibawah terangnya sinar bulan purnama, Azis dapat melihat dengan jelas sahabatnya Joni sedang berjongkok dihadapan Mbak Dewi, istri Mas

Parjo, tetangganya, yang baru pulang dari Timur Tengah setelah dua tahun menjadi TKW. Wajah Joni berada pas di depan selangkangan Mbak Dewi yang sedang berdiri tanpa selembar benang melekat ditubuhnya.

Tangan Joni meraba-raba paha mulus Mbak Dewi, sedangkan lidahnya menjilati bibir kemaluan wanita itu. Joni mencucuk-cucuk klitoris Mbak Dewi dengan lidahnya dan menyedot-nyedotnya bibir vagina Mbak Dewi dengan mulutnya, membuat Mbak Dewi mendesah-desah dan matanya merem melek merasakan nikmat.

"Oohh.. Jonii.. Enakk.. Teruss.. Truss," desah Mbak Dewi penuh birahi. Joni semakin bersemangat menjilati vagina Mbak Dewi, sambil sesekali Joni menjilati lubang anusnya. Membuat Mbak Dewi semakin tak tahan.

Beberapa menit berlalu Joni menyudahi jilatannya, kemudian dia merebahkan tubuhnya ditanah, dengan posisi terlentang, beralaskan daun pisang. Sesaat kemudian Mbak dewi mendekat ke arah Joni, lalu berjongok diatas selangkangan Joni yang masih tidur terlentang. Selangkangannya yang
tersibak berada diantara pinggang Joni. Lubang vaginanya yang terbuka lebar berada diatas penis Joni yang sudah tegang dan berdiri tegak.

Mbak Dewi meraih penis Joni, dengan lembut Mbak Dewi mengocok-ngocok penis Joni. Setelah benar-benar tegang dan keras, Mbak Dewi lalu menempelkan kepala penis Joni dibibir vaginanya. Perlahan-lahan Mbak Dewi menurunkan pantatnya dan sedikit demi sedikit batang penis Joni masuk ke lubang vaginanya. Setelah seluruh batang penis Joni masuk, Mbak Dewi mulai menaik turunkan pantatnya.

"Akhh.. Mbakk.. Nikk.. Matt.. Truss.. Truss," jerit Joni sambil mengimbangi gerakkan Mbak Dewi dengan menyodok-nyodokkan pantatnya.

"Oohh.. Jon.. Akuu.. Jugaa, Enakk," sahut Mbak Dewi.

Gerakkan naik turun pantat Mbak Dewi yang diselingi gerakkan meliuk-liuk, semakin lama semakin cepat membuat joni tak tahan lagi. Sekitar lima belas menit berlalu, Joni merasakan penisnya berkedut-kedut.

"Akkhh.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr.. Mbakk," Jerit Joni.

Semenit kemudian, dengan diiringi teriakkan yang sangat keras, Joni mencapai orgasmenya. Tanpa menghiraukan Joni yang telah mencapai orgasmenya, Mbak Dewi terus menggoyang pantatnya diatas selangkangan Joni, sambil meremas-remas buah dadanya sendiri. Azis yang sedari tadi mengintip, tak dapat lagi manahan nafsu birahinya. Sambil melepaskan seluruh pakaiannya, Azis mendekat dan berdiri disamping Mbak Dewi yang masih bergoyang erotis diatas selangkangan Joni.

Azis menyodorkan penisnya yang sudah tegang kewajah Mbak Dewi. Mbak Dewi yang belum mencapai puncak kenikmatan, mendekatkan wajahnya ke selangkangan Azis. Diraihnya penis Azis dan dikocok-kocoknya sebentar. Tanpa membuang waktu lagi, Mbak Dewi membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya, menjilati penis Azis.

"Ohh.. Mbak.. nik.. matt," desis Azis, saat Mbak Dewi mengulum penisnya. Mulut Mbak dewi penuh sesak oleh batang penis Azis yang besar dan panjang. Mbak Dewi menggerakkan kepalanya maju mundur membuat penis Azis keluar masuk dari mulutnya. Pipi Mbak Dewi sampai kempot, saking bernafsunya menjilati penis Azis.

Sepuluh menit berlalu Mbak Dewi melepaskan kulumannya pada penis Azis, kemudian dia merebahkan tubuhnya ditanah. Disamping Joni yang telah tertidur pulas. Azis tahu kalau Mbak Dewi sudah tak sabar lagi merasakan keperkasaan penisnya.

Azis kemudian berjongkok diselangkangan wanita itu. Kedua paha Mbak Dewi dibukanya lebar-lebar. Azis menggenggam penisnya yang sudah tegang penuh dan mengarahkannya pas ke lubang vagina Mbak Dewi. Perlahan Azis menurunkan pantatnya membuat kepala penisnya masuk ke lubang vagina Mbak
Dewi.

"Aow.. Zis.. perih.. sakit, "jerit Mbak Dewi menahan perih saat seluruh batang penis Azis menerobos masuk dan menggesek dinding vaginanya. Tanpa membuang-buang waktu, Azis langsung menggenjot Mbak Dewi.

"Ohh.. Zis.. Enakk.. Teruss.. Nikmatt," Jerit Mbak Dewi sesaat kemudian, ketika rasa sakit pada dinding vaginanya mulai menghilang dan berganti dengan rasa nikmat.

Jeritan-jeritan Mbak Dewi yang diselingi desahan-desahan nikmat membuat Azis semakin bersemangat memaju mundurkan pantatnya. Dari bawah Mbak Dewi mengimbangi gerakkan pantat Azis dengan menyodok-nyodokkan pantatnya. Beberapa saat kemudian, bagian dalam dinding vagina Mbak Dewi berdenyut-denyut dan menjepit keras penis Azis. Tubuhnya terhentak-hentak dan bergerak liar, diiringi teriakkan yang sangat keras, Mbak Dewi mencapai orgasme.

Azis yang belum mencapai puncak kenikmatan tak mau rugi. Dia mencabut penisnya yang masih tegang dari lubang vagina Mbak Dewi. Azis menyuruh Mbak Dewi telungkup. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman bersetubuh dengan banyak pria saat menjadi TKW, Mbak Dewi tahu apa yang diinginkan
Azis. Dia mengangkat sedikit pantatnya dan membuka kedua pahanya.

Azis mengocok-ngocok penisnya sebentar kemudian mengarahkannya ke lubang anus Mbak Dewi. Setelah penisnya berada tepat di lubang anus Mbak Dewi, Azis mulai mendorong maju pantatnya. Mbak Dewi meringis saat penis Azis menerobos masuk ke lubang anusnya.

"Oohh.. Zis.. enakk.. gilaa," desis Mbak Dewi ketika Azis mulai menggerakkan pantatnya naik turun sambil meremas-remas pantat Mbak Dewi.

"Akuu.. Juga.. Mbak.. Anus.. Mbak.. Enakk," sahut Azis.

Azis merasakan penisnya dijepit dan seperti dipijit-pijit oleh sempitnya lubang anus Mbak Dewi.
Azis semakin cepat menggerakkan pantatnya saat dirasakannya orgasmenya akan segera tiba.

"Mbak.. akuu.. keluarr," jerit Azis keras saat mencapai puncak kenikmatan. Dia menyemprotkan sperma yang sangat banyak dilubang anus Mbak Dewi. Tak lama berselang Mbak Dewi menjerit keras saat mencapai orgasme yang kedua kali. Sesaat kemudian Azis merebahkan tubuhnya disamping Mbak Dewi.

Setelah beristirahat sepuluh menit, nafsu birahi Mbak Dewi bangkit lagi. Mbak Dewi yang memiliki nafsu birahi yang sangat tinggi, bangun dari tidurnya, kemudian duduk sambil memandangi kedua anak muda yang sedang tidur mengapitnya.

Kedua tangannya bergerak, meraba-raba selangkangan Azis dan Joni. Tangan kirinya mengelus-elus dan mengocok-ngocok penis Joni sedangkan tangan kanannya melakukkan halnya yang sama pada penis Azis yang tidur di sebelah kanannya. Perlahan-lahan kedua penis Joni dan Azis mulai tegang.

Kedua pemuda itu kemudian bangkit dan berdiri mengapit Mbak Dewi. Sambil tersenyum, Mbak Dewi kemudian berjongkok, Mbak Dewi menempatkan wajahnya diantara selangkangan Joni dan Azis. Dan secara bergantian Mbak Dewi mengocok-ngocok dan mengulum kedua penis anak muda itu.

Sekitar lima belas menit berlalu mereka merubah posisi. Azis tidur terlentang dengan kedua kaki berselonjor. Mbak Dewi kemudian menindih tubuh Azis dari atas. Tangannya meraih penis Azis dan menempelkannya ke lubang vaginanya. Mbak Dewi mendorong pantatnya membuat seluruh penis Azis masuk ke lubang vaginanya. Dengan irama pelan Mbak dewi mulai menaik turunkan pantatnya.

Joni yang sedang berdiri tak mau hanya menonton saja. Joni kemudian mengangkangi pantat Mbak Dewi. Dia mengarahkan penisnya tepat ke lubang anus Mbak Dewi, dan mendorong pantatnya dengan keras, sehingga seluruh batang penisnya masuk ke lubang anus Mbak Dewi.

Mbak Dewi merasakan sensasi yang luar biasa hebatnya dikedua lubang bawahnya saat penis Joni dan Azis mengaduk-aduk lubang vagina dan lubang anusnya. Hentakkan-hentakkan kedua penis anak muda itu dikedua lubang bawahnya, memberinya kenikmatan yang tiada taranya.

Sodokkan-sodokkan penis Azis pada lubang vaginanya dari bawah dan kocokkan penis Joni pada lubang anusnya dari atas, yang semakin lama semakin cepat membuatnya tak dapat bertahan lebih lama.

Mbak Dewi merasakan tubuhnya seperti melayang, otot-otot vaginanya menegang dan tubuhnya bergerak liar. Mbak Dewi mencengkeram pantat Joni kuat-kuat sambil meminta kedua pemuda itu lebih cepat lagi menghujam kedua lubang bawahnya.

Azis dan Joni yang juga merasakan orgasmenya hampir sampai menekan dalam-dalam penis masing-masing. Dan hampir bersamaan cairan hangat menyembur dikedua lubang Mbak Dewi. Tubuh ketiga insan itu bergetar hebat merasakan kenikmatan yang sangat hebat. Dibarengi teriakan yang sangat keras, tubuh mereka mengejang hampir bersamaan. Kemudian mereka terkulai lemas.

Hampir semalam penuh mereka bertiga merasakan nikmatnya bersetubuh. Sampai ketiga benar-benar kehabisan tenaga dan tertidur pulas. Dan hari-hari selanjutnya Mbak Dewi menjadi piala bergilir, bukan Joni dan Azis saja yang menikmati tubuhnya. Hampir sebagian besar pemuda kampung juga merasakan nikmatnya tubuh Mbak Dewi.

Mbak Dewi yang haus seks, sangat menikmati disetubuhi lebih dari satu pria. Bahkan pernah suatu malam, sekitar sepuluh pria kampung menyetubuhinya. Mas Parjo suaminya, hanya diam dan tak dapat berbuat apa-apa. Walaupun mengetahui istrinya menjadi piala bergilir pemuda kampung. Dan Azislah yang paling sering menyetubuhi Mbak Dewi dan membuatnya tergila-gila.

Pejantan Kampung 3

Untuk menyambut datangnya Tahun Baru, dikampung Azis diadakan bermacam-macam hiburan. Mulai dari wayang kulit sampai dangdut. Hiburan yang paling disenangi Azis adalah dangdut, terutama goyangan erotis penyanyi wanitanya yang membangkitkan nafsu birahi.

Saat malam Tahun baru tiba, sekitar jam 20.00 WIB, Azis bergegas berangkat kelapangan bola menonton dangdut bersama teman akrabnya Joni. Jaraknya sekitar dua kilo dari tempat tinggal Azis. Acara baru saja mulai ketika Azis tiba disana. Namanya juga acara gratis, penontonnya banyak sekali.

Saking asiknya menikmati pertunjukkan, Azis tak sadar kalau temannya Joni tak ada lagi disampingnya. Azispun celingukan mencari Joni. Saat mencari Joni, Azis bertemu dengan Titi, anak Pak Kades.
"Ti, ada lihat Joni nggak?," tanya Azis.
"Nggak tuh, aku juga lagi cari Mbak Yuli, kamu ada lihat nggak?," Titi balik bertanya.
"Ngga ada," sahut Azis pendek.
"Zis, tolong anterin aku pulang ya!," pinta Titi.
"Ntar deh, acaranya lagi bagus nih," sahut Azis.
"Tolong dong Zis, aku takut pulang nih," rengek Titi.

Lama-lama Azis kasihan juga sama Titi. Dengan setengah hati Azis mengantar Titi pulang. Untuk menuju rumah Titi yang berdekatan dengan rumah Azis, mereka harus melewati sawah dan kebun yang cukup gelap. Saat melewati perkebunan, tiba-tiba pohon berderak keras, mengejutkan mereka.
Tanpa sadar Titi memeluk tubuh Azis. Azis tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan. Dibalasnya pelukan Titi dengan dekapan yang erat. Azis mendekatkan bibirnya kebibir Titi. Dikecupnya bibir gadis itu. Tanpa diduga Titi membalas kecupan Azis. Mulutnya terbuka menyambut lidah Azis yang terjulur dan memasukkan kemulutnya.

Merasa mendapat angin segar, Azis menggerakkan tangan kirinya mengelus-elus punggung Titi, kemudian Azis menyusupkan tangan kirinya kebalik kaos ketat Titi. Semakin lama semakin panas mereka bercumbu. Sesaat kemudian, Azis menyudahi cumbuannya. Dibopongnya tubuh Titi yang sexy, ke sebuah rumah kosong tak jauh dari situ. Ketika sampai di rumah itu, dengan posisi berdiri sejajar, mereka bercumbu lagi, bahkan lebih panas lagi.

Setelah berhasil melepaskan kaos dan BH Titi, Azis meremas-remas pantat Titi yang montok. Membuat Titi menggerinjal-gerinjal merasakan nikmat. Titi memainkan tangannya kearah penis Azis yang sudah setengah tegang. Dan penis Azis semakin tegang saja, saat Titi menyusupkan tangan
kebalik celana dalam Azis. Dan mengocok-ngocok penis Azis. Luar biasa nikmat yang dirasakan Azis, dia sama sekali tidak menyangka. Titi yang masih belia, dan baru berumur 15 tahun, sangat lihai memainkan penisnya.

Beberapa saat kemudian Azis menghentikan cumbuannya. Kemudian dia berjongkok di depan Titi. Azis menyibak rok mini yang dikenakan Titi dan merenggangkan kedua kaki gadis itu. Sesaat Azis terpana memandang paha Titi yang putih mulus. Pangkalnya menggunduk dibungkus celana dalam
transparan, sehingga samar-samar Azis dapat melihat bentuk vagina Titi yang dihiasi bulu tipis kemerahan. Sambil menciumi dan menjilati pangkal paha Titi, Azis menyusupkan tangannya ke balik celana dalam Titi. Meremas-remas vagina Titi. Titi mendesah-desah merasakan nikmat.

"Ohh.., Mas.., enakk.., truss," desah Titi saat Azis menjilati vagina dari balik celana dalam. Membuat Azis semakin bersemangat menjilati vagina gadis itu. Sesaat kemudian Azis melepaskan rok dan celana dalam Titi. Kini vagina Titi yang dihiasi bulu-bulu tipis terpampang di depan mata Azis. Mata Azis terbelalak melihat pemandangan di depannya yang begitu indah.

Azis menjulurkan lidahnya dan memainkannya dibibir vagina Titi. Sedikit demi sedikit mulai masuk kelubang vagina Titi. Azis mencucuk-cucuk vagina Titi sambil meremas-remas pantat gadis belia itu. Saking nikmatnya, Titi mendorong maju pantatnya dan membenamkan kepala Azis di selangkangannya.

Beberapa saat kemudian Titi merasakan otot-otot vaginanya menegang.
"Mas.., akuu.., tak tahan," jerit Titi dibarengi dengan keluarnya cairan hangat yang merembes didinding vaginanya. Titi telah mencapai orgasmenya.
Setelah diam beberapa saat, Azis kemudian berdiri. Sambil melepaskan seluruh pakaiannya, Azis menyuruh Titi tidur terlentang dilantai beralaskan celana dan kaosnya. Titi menuruti saja perintah Azis. Kemudian Azis mengangkangi wajah Titi. penisnya yang sudah tegang penuh, disodorkan kemulut Titi. Titi membuka mulut dan menjulurkan lidahnya. Dia mulai menjilati penis Azis, dari kepala turun kepangkal. Buah pelir Azis tak luput dari jilatannya.

"Oohh.., Tii.., enak.., banget," desis azis menahan nikmat, saat Titi memasukkan penis Azis kemulutnya. Azis memaju mundurkan pantatnya, membuat penisnya keluar masuk dari mulut Titi. Sekitar dua puluh menit Titi mengulum penis Azis yang besar dan panjang. azis kemudian mencabut penisnya dari mulut Titi. Kemudian Azis berjongkok diselangkangan Titi. penisnya diarahkan tepat kelubang vagina Titi.
"Aow.., sakit.., Mas.., jangan," pekik Titi saat penis Azis yang keras dan kaku mulai menembus lubang vaginanya yang masih perawan.
"Tahan Ti, lama-lama pasti enak," sahut Azis sambil terus mendorong maju pantatnya.

Baru setengah batang penisnya masuk, Azis menarik lagi kemudian mendorongnya lagi.
"Aow.., Mas.., ampun," pekik Titi lebih keras, saat seluruh batang penis Azis masuk kelubang vaginanya dan merobek selaput daranya. Darah segar mengalir dari lubang vagina Titi, merembes kesela-sela pahanya.

Azis tak menghiraukan jeritan Titi. Dengan sangat bernafsu Azis menaik turunkan pantatnya. Setelah sepuluh menit Azis menggoyang-goyangkan pantatnya, jeritan-jeritan Titi mulai melemah kemudian menghilang, berganti dengan desahan-desahan nikmat. Desahan-desahan dan jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut Titi membuat Azis semakin bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tiga puluh menit berlalu, Titi menjepitkan kedua kakinya kepinggang Azis. Pantatnya terangkat. Tampak Titi akan orgasme. Azis juga merasakan hal yang sama, penisnya berkedut-kedut. Azis mempercepat gerakkan pantatnya.

"Oohh.., sshh.., oohh," pekik mereka hampir bersamaan. Tubuh keduanya menggelinjang hebat saat mencapai puncak kenikmatan. Azis membiarkan penisnya terbenam beberapa saat dilubang vagina Titi, kemudian dia merebahkan tubuhnya disamping gadis itu. Sesaat kemudian mereka tertidur pulas.

Sekitar satu jam tertidur, Azis terbangun karena merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di selangkangannya. Azis tersenyum ketika melihat Titi sedang mengocok batang penisnya. Pelan-pelan batang penis Azis mulai menegang. Ketika sudah tegang penuh, Titi menjilati, kemudian mengulum penis Azis.
"Truss.., Ti.., enakk.., nik.. matt," desis Azis tertahan, merasakan nikmatnya kuluman Titi pada batang penisnya. Selang beberapa menit, Titi menyudahi kulumannya. Kemudian Titi berjongkok diatas selangkangan Azis. Tangan Titi meraih penis Azis dan mengarahkannya kelubang vaginanya. Pelan-pelan Titi mulai menurunkan pantatnya dan sedikit demi sedikit batang penis Azis masuk kelubang vaginanya. Azis merasakan batang penisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang vagina Titi.

Setelah seluruh batang penis Azis masuk kelubang vaginanya, Titi segera menaik turunkan pantatnya. Mula-mula dengan irama pelan, semakin lama semakin cepat. Azis mengimbangi gerakan pantat Titi dengan menyodok-nyodokkan pantatnya keatas. Seirama gerakkan pantat Titi.

Beberapa saat berlalu, mereka berganti posisi. Azis menyuruh Titi menungging, dengan tangan dan lutut bertumpu dilantai. Kemudian azis berlutut dibelakang pantat Titi. Azis menggenggam penisnya lalu membimbingnya kelubang vagina Titi. Kedua tangan Azis memegang pinggang Titi.
"Aow.., enakk.., nikmat," desah Titi, saat Azis mulai mendorong pantatnya dan mendorongnya dari belakang. Kedua buah dada Titi bergoyang-goyang seirama dorongan pantat Azis.Desahan dan jeritan Titi semakin keras ketika Azis semakin cepat memaju mundurkan pantatnya.
"Oohh.., Mas.., aku.., nggak kuat.., aku.., mau," pekik Titi terputus-putus.
Beberapa saat kemudian tubuh Titi terhentak-hentak hebat dan mengejang mencapai klimaks.

Setelah Titi mencapai orgasmenya, Azis mencabut batang penisnya dari lubang vagina Titi. Kemudian dia berlutut dibelakang Titi, lalu dia mendekatkan wajahnya kepantat Titi. Azis menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati lubang anus Titi. Titi hanya diam menunggu dan tak mengerti apa yang akan dilakukan Azis. Dia membiarkan saja ketika lidah Azis mencucuk-cucuk lubang anusnya. Sekitar lima belas menit berlalu, Azis menyudahi jilatannya pada lubang anus Titi. Kini dia berdiri dibelakang Titi dan mengusap-usapkan kepala penisnya kelubang anus Titi.

Titi menjerit keras menahan sakit saat Azis mulai mendorong pantatnya dan batang penisnya memaksa masuk menembusi lubang anus Titi. Tanpa memperdulikan jeritan Titi Azis terus mendorong pantatnya hingga seluruh batang penisnya amblas tertelan lubang anus Titi. Tanpa membuang waktu lagi Azis langsung menggerakkan pantatnya maju mundur. Jeritan-jeritan Titi membuat Azis semakin bernafsu dan semakin bersemangat menggerakkan pantatnya dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, Azis merasakan orgasmenya sudah diambang pintu. Dia menggerakkan pantatnya semakin cepat dan liar.

Diiringi jeritan yang sangat panjang, Azis mencapai orgasmenya. Dia menekankan pantatnya kuat-kuat dan mencengkeram erat pinggang Titi. Dia menyemburkan sperma yang cukup banyak di lubang anus Titi. Setelah menuntaskan orgasmenya, Azis mencabut batang penisnya dan mendekatkannya ke wajah Titi. Sambil tersenyum Titi membuka mulutnya dan menjilati sisa-sisa sperma yang blepotan di penis Azis.

Setelah beristirahat beberapa menit, mereka mengenakan pakaian masing-masing. Sekitar jam 24.00 WIb, Azis mengantar Titi kerumahnya. Dalam perjalanan pulang, sambil memeluk erat pinggang Titi, Azis tak henti-hentinya tersenyum. Senyum penuh kemenangan karena berhasil membobol perawan anak Pak Kades, orang terhormat dikampungnya, yang selama ini berselingkuh dengan ibunya.

Pejantan Kampung 2

Siang hari itu, Azis pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil dia melangkah menuju rumahnya. Begitu membuka pintu rumahnya Azis terkejut, pintu rumahnya tidak
terkunci. Azis merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dengan mengendap-endap Azis masuk kedalam rumahnya. Samar-samar Azis mendengar suara orang mendesah-desah diselingi rintihan-rintihan. Azis penasaran dibuatnya. Azis berusaha mencari sumber suara-suara itu.

Ketika dia mendekati kamar ibunya, suara-suara itu, semakin keras terdengar. Azis menghentikan langkahnya didepan kamar ibunya. Suara itu semakin keras terdengar. Ibu lagi ngapain ya, pikirnya. Rasa ingin tahunya semakin kuat, Azispun mengintip dari lubang pintu.

Alangkah terkejutnya Azis, melihat pemandangan di dalam kamar ibunya. Didalam kamar, Bu Ani, ibunya sedang berdiri sambil memeluk tubuh Pak Kades. Tangan Bu Ani melingkar dipinggang Pak Kades. Sedangkan tangan Pak Kades sedang meremas-remas pantat Bu Ani, yang padat berisi.

Tanpa melepaskan tangannya dari pantat Bu Ani, Pak Kades mencium pipi Bu Ani, kemudian menjulurkan lidahnya mengecup bibir Bu Ani. Bu Ani membuka mulutnya, menyambut kecupan Pak Kades dengan lumatan-lumatan yang tak kalah hebatnya. Saking asiknya mereka bercumbu, tanpa mereka sadari sepasang mata sedang mengintip dengan hati yang panas. Bahkan percumbuan mereka makin
panas saja.

Beberapa saat berlalu, Pak Kades melepaskan lumatannya pada bibir Bu Ani. Tangannya kemudian bergerak melepaskan seluruh pakaian Bu Ani. Setelah semuanya terlepas, Pak Kades memandangi sebentar tubuh Bu Ani yang telanjang bulat sambil berdecak kagum.
"Oh, luar biasa An, tubuhmu masih sexy," puji Pak Kades.
Bu Ani tersenyum mendengar pujian Pak Kades, sambil menggerakkan tangannya, melepaskan seluruh pakaian Pak Kades. Kini kedua insan berlainan jenis itu sama-sama telanjang bulat.

Tanpa membuang waktu, Pak Kades menyuruh Bu Ani tidur terlentang diatas ranjang. Kemudian Pak Kades merangkak diatas tubuh Bu Ani dengan posisi sungsang. Selangkangan Pak Kades berada diatas wajah Bu Ani, begitu juga sebaliknya. Wajah Pak Kades berada diatas selangkangan Bu Ani. Pak Kades membuka paha Bu Ani lebar-lebar, tangannya meraba-raba bibir vagina Bu Ani yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Pak Kades mencucuk-cucuk lubang vagina Bu Ani dengan jari-jarinya.

"Ohh.., Mas.., enakk.., truss.., truss," rintih Bu Ani saat Pak Kades mulai menjilati vaginanya. Pak Kades menyedot-nyedot kelentit Bu Ani yang memerah dan basah. Pantat Bu Ani terangkat-angkat menyambut jilatan-jilatan Pak Kades pada lubang vaginanya.
"Jilatin punyaku An," pinta Pak Kades.
Bu Ani menuruti saja permintan Pak Kades. Tangannya meraih penis Pak Kades, yang sudah setengah
tegang. Dikocok-kocoknya sebentar, kemudian diarahkannya kemulutnya. Pak Kades menurunkan pantatnya, hingga penisnya menyentuh mulut Bu Ani. Bu Ani membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya. Bu Ani mulai menjilati kepala penis Pak Kades.

Lidahnya berputar-putar di kepala penis Pak Kades kemudian turun kepangkal. Seluruh Batang penis Pak Kades dijilatinya tanpa sejengkalpun terlewatkan.
"Ohh.., An.., nikmatt.., truss.., kulum.., truss," desis Pak kades saat Bu Ani memasukkan penis Pak Kades kemulutnya. Pak Kades menaik turunkan pantatnya, membuat penisnya keluar masuk dari mulut Bu Ani. Sesekali Bu Ani menggigit penis Pak Kades. Pak Kades meringis dibuatnya.

Sekitar dua puluh menit berlalu, Pak Kades merubah posisinya. Kini dia tidur terlentang diatas ranjang. Bu Ani disuruhnya naik keatas tubuhnya. Bu Ani mengikuti saja perintah Pak Kades. Bu Ani berjongkok diatas selangkangan Pak Kades. Diraihnya penis Pak Kades, dituntunnya kelubang vaginanya. Setelah dirasa pas, Bu Ani mulai menurunkan pantatnya. Sedikit demi sedikit penis
Pak Kades masuk kelubang vagina Bu Ani. BU Ani terus menurunkan pantatnya sampai seluruh batang penis Pak Kades amblas tertelan lubang vaginanya. Kemudian Bu Ani menggerakkan pantatnya naik turun. dimulai dengan irama pelan, semakin lama semakin cepat. Sesekali Bu Ani memutar-mutar
pantatnya. Membuat penis Pak Kades serasa dipelintir.

Pak Kades tak mau ketinggalan. Dia menyodok-nyodokkan pantatnya mengimbangi gerakkan pantat Bu Ani. Azis yang dari tadi mengintip ibunya sedang bersetubuh dengan Pak Kades, sedikit kagum melihat goyangan pantat ibunya diatas tubuh Pak Kades. Nafsu birahinya bangkit. Dilepaskannya seluruh pakaian seragam sekolahnya. Setelah telanjang bulat, Azis meraih penisnya. Dikocok-kocoknya penisnya sendiri sambil mengintip. Tak terasa sudah tiga puluh menit Bu Ani menggoyang-goyangkan pantatnya. Bu Ani semakin cepat menggenjot tubuh Pak Kades, saat dirasakannya
orgasmenya sudah dekat. Demikian juga Pak Kades, sodokkan-sodokkan pantatnya semakin cepat.
"Ohh.., Mas.., akuu.., mauu.., keluarr," jerit Bu Ani.
"Akuu.., jugaa.., An.., " sahut Pak Kades.

Beberapa saat kemudian kedua insan yang sedang bersetubuh itu, merasakan otot-ototnya menegang. Diiringi teriakkan yang hampir bersamaan, tubuh mereka menggelepar. Pak Kades menyemprotkan spermanya didalam lubang vagina Bu Ani. Setelah menuntaskan birahinya, Bu Ani turun dari atas tubuh Pak kades, kemudian merebahkan tubuh dan tertidur disamping Pak Kades. Pak Kades kemudian bangkit dan mengenakan pakaian. Dipandanginya tubuh Bu Ani yang sedang tertidur pulas. Dengan melompati jendela kamar, Pak Kades keluar dari kamar Bu Ani.

Begitu Pak Kades keluar dari kamar ibunya, Azis yang sudah dirasuki nafsu birahi, segera membuka kamar ibunya. Sambil mengocok-ngocok penisnya yang sudah tegang, Azis memandangi wajah ibunya yang sedang tertidur pulas.

Nafsu setan sudah merasuki diri Azis. Tanpa berpikir panjang Azis segera menindih tubuh ibunya. Kedua kaki ibunya, dibukanya lebar-lebar. Kemudian Azis menggenggam penisnya dan diarahkan kelubang vagina ibunya. Dan Azis mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit, sampai
seluruh penisnya amblas tertelan lubang vagina ibunya. Saat Azis mulai menggerakkan pantatnya naik turun, Bu Ani terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya dia, saat tahu Azis, anak kandungnya sedang menyetubuhinya.

"Zis, jangan Zis, aku ibumu," teriaknya berusaha berontak. Tapi sia-sia. Azis terlalu kuat baginya. Dengan mudah azis meringkus ibunya. Azis memegang erat-erat kedua tangan ibunya dan menyumpal mulut ibunya dengan mulutnya. Dengan buasnya Azis melumat mulut ibunya. Bu Ani yang sudah kehabisan separuh tenaganya, sehabis bersetubuh dengan Pak Kades tadi tak kuasa melawan keberingasan anaknya. Perlawanannya mulai melemah.

Sodokan-sodokan penis Azis pada lubang vaginanya, pelan-pelan membangkitkan nafsu birahinya. Tanpa sadar Bu Ani mengimbangi gerakan pantat Azis, dengan menyodok-nyodokkan pantatnya. Sambil meracau dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang sangat jorok, yang seharusnya tidak keluar dari
mulut seorang ibu. Azis semakin bersemangat menggopyang-goyangkan pantatnya.

"Ohh, Zis truss Zis, entot ibu Zis," rintih Bu Ani merasakan nikmat. Azis semakin cepat memompa vagina ibunya, ketika dirasakannya vagina ibunya berkedut-kedut. Otot-otot vagina ibunya menegang. Bu Ani mencakar-cakar punggung Azis disertai teriakkan panjang.
"Zis.., ibu.., keluarr," jeritnya. Vaginanya menjepit penis Azis dan tangannya menarik pantat Azis, membuat penis Azis semakin terbenam di lubang vaginanya. Dan akhirnya Bu Ani mencapai orgasmenya. Cairan hangat membasahi dinding vaginanya.

Azis yang belum mencapai orgasmenya, membalikkan tubuh ibunya lalu menarik kaki ibunya hingga menjuntai ke lantai. Kemudian dia mendekatkan wajahnya kelubang anus ibunya. Azis menjulurkan lidahnya menjilati lubang anus ibunya. Jilatan-jilatan azis membangkitkan lagi nafsu birahi ibunya. Bu Ani pasrah saja atas perlakuan anaknya. Bu Ani menggelinjang, saat Azis mencucuk-cucuk lubang anusnya. Tangannya bergerak kebelakang meraih kepala Azis, membenamkannya dipantatnya.

Puas menjilati anus ibunya, azis meraih penisnya. Dituntunnya kelubang anus ibunya. BU Ani berteriak kesakitan, saat Azis memaksakan penisnya menembus lubang anusnya. Rasa panas dan perih pada dinding dan bibir anusnya tak tertahankan lagi. Bu Ani berusaha berontak menghindar, tetapi tangan Azis yang menekan punggungnya, membuatnya tak berdaya. Azis mulai mendorong dan menarik
pantatnya memompa lubang anus ibunya. Tubuh Bu Ani terguncang-guncang oleh sodokkan-sodokkan anaknya. Dia melolong menahan rasa sakit yang luar biasa.

Dengan terus menyodomi ibunya, Azis memeluk tubuh ibunya dari belakang dan meremas-remas buah dada ibunya. Nafasnya terengah-engah. Nafsu birahinya benar-benar tak terkendali.Saat mendekati puncak birahinya, Azis mempercepat pompaanya. Diiringi lolongan panjang, Azis menyemprotkan spermanya dilubang anus ibunya. Membasahi bibir dan dinding anus ibunya.

Sesaat kemudian Azis bangkit dan menyuruh ibunya duduk ditepi ranjang. Azis menyodorkan penisnya kemulut ibunya. Meminta ibunya menjilati sisa-sisa spermanya. Bu Ani menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan, menolak permintaan anaknya. Tapi Azis tak kehabisan akal. Ditariknya
kepala ibunya dan dibenamkan keselangkangannya lalu dipencetnya hidung ibunya. Membuat ibunya kesulitan bernafas dan terpaksa membuka mulutnya. Saat itulah Azis langsung menyodokkan penisnya dan menjejalkan kemulut ibunya.
"Ayo Bu, isep sampai bersih," pinta Azis.
Dengan sangat terpaksa, dan menahan rasa jijik, Bu Ani mengulum penis anaknya dan menjilati sisa-sisa sperma anaknya.

Malam itu, azis memaksa ibunya melayani nafsu birahinya sampai pagi. Sampai dia benar-benar puas. Bu Ani tak kuasa menolak keinginan anaknya.Hari-hari berikutnya, Bu Ani menjadi budak nafsu anaknya. Dia harus selalu siap melayani nafsu birahi anaknya. Mula-mula Bu Ani melakukannya dengan terpaksa, tetapi lama-lama dia ketagihan juga disetubuhi anaknya.

Pejantan Kampung

Matahari hari mulai terbenam di ufuk barat ketika Jamaluddin Azis, yang
lebih akrab dipanggil Azis, baru saja bangun dari tidurnya. Dengan mata masih mengantuk, Azis berusaha bangun dan mengambil handuk yang kemudian dililitkan dipinggangnya. Kemudian dia berjalan menuju sungai, yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya.

Pemuda berusia 16 tahun, berwajah ganteng dan bertubuh atletis ini berjalan melintasi persawahan sambil bernyanyi kecil. Azis adalah figur pemuda kampung yang supel, ramah dan pintar bergaul. Ayahnya Pak Brata adalah seorang petani yang cukup berhasil. Pak Brata memiliki tiga orang istri. Azis anak satu-satunya dari isteri ketiga Pak Brata. Ibunya bernama Ani, biasa dipanggil Bu Ani, seorang penjual kue dipasar yang letaknya tidak begitu jauh dari kampungnya.

Menurut cerita orang-orang kampung, Azis bukanlah anak kandung Pak Brata. Ibunya sudah hamil tiga bulan ketika dikawin Pak Brata. Ibunya dihamili majikannya sewaktu ibunya masih menjadi TKW di Arab. Makanya, wajah Azis mirip dengan orang Arab.

Singkat cerita, Azis sudah hampir sampai disungai. Sore ini, Azis merasakan ada sesuatu yang lain dari biasanya. Dimana sungai tempatnya mandi, biasanya ramai. Tumben hari ini sepi sekali. Oh, mungkin aku bangun kesorean, pikir Azis dalam hati. Sambil melanjutkan langkahnya berjalan. Azis dikejutkan oleh suara seorang perempuan sedang merintih dan mendesah-desah. Suara itu
datangnya dari arah sungai. Azis merasa penasaran oleh suara-suara itu. Dia mendekati arah suara itu.

Alangkah terkejutnya Azis melihat pemandangan didepannya, yang membuat berdiri terpaku. Pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya langsung. Dimana, Mbak Siti tetangganya, sedang mandi sambil meraba-raba buah dadanya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Azis segera mencari tempat yang agak tersembunyi, mengintip Mbak Siti. Mbak Siti yang dalam keadaan telanjang bulat, tidak menyadari kalau didepannya seseorang sedang melihatnya dengan mata melotot dan jakun yang naik turun.

Wanita berusia 25 tahun, yang sudah setahun ditinggal suaminya menjadi TKI ini, semakin asyik meremas-remas buah dadanya.
"Akh.., ohh.., oohh.., " desahan-desahan nikmat yang keluar dari mulutnya, membuat Azis semakin terpukau memandangnya. Azis merasakan penisnya menegang dibalik celana dalamnya. Tanpa sadar dia menyusupkan tangan ke balik celana dalamnya.

Azis meraba-raba kemaluannya yang makin lama makin mengeras. Azis semakin bernafsu saat Mbak Siti, meraba-raba vaginanya sendiri. Kemudian Mbak Siti memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya. Dicucuk-cucuknya vaginanya sendiri sambil mulutnya mendesah-desah. Membuat Azis semakin tak kuat menahan nafsu birahinya. Azis melepaskan handuk dan celana dalamnya lalu mengeluarkan penisnya yang sudah berdiri tegak. Diraihnya kemaluannya, kemudian dikocok-kocoknya.

Saat Azis sedang asik mengocok-ngocok penisnya. Tanpa disadarinya Mbak Siti telah berdiri tanpa busana didepannya.
"Kamu lagi ngapaain Zis," tanya Mbak Siti.
"Maaf.., Mbak.., maaf," sahut Azis tergagap, tanpa melepaskan pandangan dari tubuh telanjang Mbak Siti.
"Kamu lihat ini ya," tanya Mbak Siti sambil menunjuk vaginanya.

Azis hanya diam, tak menyahut. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan mata Mbak Siti.
"Kamu suka Zis," tanya Mbak Siti sambil tersenyum. Tanpa menunggu jawabab Azis, Mbak Siti menggerakkan tangannya meraih penis Azis.
"Aow, penismu gede sekali Zis, panjang lagi," jerit Mbak Siti. Mbak Siti mengelus-elus lembut penis Azis dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya meraba-raba buah pelir Azis. Azis merasakan badannya panas dingin. Baru kali ini penisnya dipegang dan dielus-elus seorang
wanita.

Mbak Siti yang sudah berpengalaman bersetubuh dengan laki-laki, sangat tahu kalau Azis sangat menginginkannya. Tanpa melepaskan kocokkannya pada penis Azis, Mbak Siti mendekatkan mulutnya ke mulut Azis. Perlahan dikecupnya bibir Azis. Mbak Siti membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya mengisi rongga mulut Azis yang mulai terbuka. Azis menyambutnya lumatan Mbak Siti dengan pagutan yang hebat pula. Cukup lama mereka bercumbu. Mbak Siti kemudian melepaskan lumatannya pada mulut Azis. Kemudian dia menjilati leher Azis. Azis mendesah-desah merasakan nikmat.

Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mbak Siti kemudian menjilati dada Azis lalu turun dan berhenti dibawah pusar Azis. Cukup lama Mbak Siti memainkan lidahnya di bawah pusar Azis. Kemudian Mbak Siti berjongkok didepan Azis. Mbak Siti mendekatkan wajahnya keselangkangan azis. Mbak Siti menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati kepala penis Azis.
"Oohh.., Mbakk.., akh.., nik.. mat," desah Azis penuh nafsu, ketika lidah Mbak Siti berputar dan menari-nari dikepala penisnya. Mbak Siti semakin bernafsu menjilati penis azis, dari kepala penis sampai kepangkal dijilatinya. Tanpa sejengkalpun terlewatkan.
"Oohh.., Mbak.., Mbak.., enak," jerit Azis saat Mbak Siti memasukkan penis Azis ke mulutnya.
Kepala Mbak Siti bergerak maju mundur mengulum penis Azis. Penis Azis disedotnya kuat-kuat
sampai pipi Mbak Siti kempot.
"Akhh.., truss.., Mbakk.., truss," suara Azis seperti mengigau keenakan.

Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Siti, menyudahi kulumannya. Kemudian dia membentangkan handuknya diatas rumput. Azis disuruhnya tidur terlentang. Mbak Siti kemudian berjongkok diatas selangkangan Azis. Diraihnya batang penis Azis, dikocok-kocoknya sebentar lalu diarahkan
tepat kelubang vaginanya.

Mbak Siti mulai menurunkan pantatnya. Sedikit demi sedikit penis Azis memasuki lubang vagina Mbak Siti. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisnya amblas kelubang vagina Mbak Siti. Azis merasakan penisnya seperti dipijit-pijit. Baru pertama kali inilah penisnya masuk kelubang vagina wanita. Nikmatnya luar biasa. Apalagi saat Mbak Siti mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penis azis keluar masuk dari lubang vaginanya. Kenikmatan yang sama juga dirasakan Mbak Siti. Sudah setahun lebih dia tidak merasakan nikmatnya bersetubuh. Apalagi penis Azis jauh lebih besar dari kepunyaan suaminya.

"Ohh.., Ziss.., penismu.., enak banget," desis Mbak Siti.
Mbak Siti semakin bersemangat menaik turunkan pantatnya. Diselingi gerakkan berputar dan bergoyang ke kiri dan ke kanan. Azis tak mau tinggal diam, pantatnya disodok-sodokkan ke atas dan ke bawah seirama gerakkan Mbak Siti. Tangannya meremas-remas pantat Mbak Siti.

Sekitar empat puluh menit sudah mereka bersetubuh. Mbak Siti semakin mempercepat gerakan pantatnya, ketika dirasakannya orgasmenya hampir sampai. Demikian juga Azis semakin cepat dia menyodok-nyodokkan pantatnya.
"Ohh.., Zis.., akuu.., mauu.., keluarr," jerit Mbak Siti.
"Akuu.., juga.., Mbakk," sahut Azis.
"Keluarin di dalem aja Zis, lebih enak," pinta Mbak Siti.
Azis mengaggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Mbak Siti. Beberapa detik kemudian tubuh mereka sama-sama mengejang, keringat mereka bercucuran. Dan hampir bersamaan, mereka berteriak lantang ," Aku.., keluarr." Dan tumpahlah sperma Azis yang cukup banyak dilubang vagina Mbak Siti.

Mbak Siti kemudian dia turun dari tubuh Azis, dan berjongkok disamping. Diraihnya penis Azis dan dikocok-kocoknya sebentar. Mbak Siti mendekatkan kepalanya keselangkangan Azis. Sambil tersenyum penuh arti, Mbak Siti menjilati penis Azis. Sisa-sisa sperma dipenis Azis dijilatinya sampai bersih.

Setelah beristirahat sebentar, Mbak Siti kemudian mengenakan pakaiannya. Membiarkan Azis yang masih terlentang tanpa busana.
"Zis, nanti malam ke rumahku ya, akan kulayani kamu sampai pagi," bisik Mbak Siti ditelinga Azis. Azis mengangguk, kemudian bangkit dan mengecup bibir Mbak Siti dengan mesra.
"Makasih Mbak, Mbak telah memberiku pelajaran yang luar biasa. Sambil melangkah pergi, Mbak Siti tersenyum bangga, telah berhasil meraih keperjakaan Azis.

Azis kemudian turun kesungai untuk membersihkan. Dia merasa bangga, karena hari ini dia mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman pertama kali menikmati enaknya vagina wanita.
Pengalaman yang sudah lama diidam-idamkannya.

Malam harinya Azis datang kerumah Mbak Siti, memenuhi undangannya. Azis berdiri didepan pintu rumah, lalu mengetuknya.
"Mbak, Mbak Siti," panggil Azis.
"Masuk aja Zis, nggak dikunci," sahut Mbak Siti dari dalam.

Azis kemudian masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Dia melangkahkan kakinya mendekati kamar Mbak Siti. Didalam kamar Mbak Siti telah menunggunya. Saat Azis memasuki kamar Mbak Siti, didapatinya Mbak Siti sedang duduk diatas ranjang tanpa mengenakan selembar benang. Kedua kakinya terbuka lebar-lebar. Mbak Siti menyuruh Azis mendekat dan berjongkok dilantai.
"Zis, jilatin vaginaku sayang," pinta Mbak Siti.
Azis menuruti permintaan Mbak Siti. Dia lalu berjongkok dilatai. Wajahnya didekatkan
keselangkangan Mbak Siti. Lidahnya dijulurkan dan ditempelkan ke bibir vagina Mbak Siti.
Dan Azis mulai menggerak-gerakkan lidahnya, menjilati bibir vagina Mbak Siti.

"Ohh.., Zis.., enakk.., truss.., truss," desah Mbak Siti keenakkan saat lidah Azis memasuki lubang vaginanya. Lidah Azis menari-nari didalam vagina Mbak Siti. Kelentit Mbak Siti dicucuk-cucuk dan disedot-sedotnya. Pantat Mbak Siti terangkat-angkat menerima jilatan Azis. Bibirnya
mendesis. Sesekali Azis memindahkan jilatannya kelubang anus Mbak Siti.
"Akhh.., akuu.., tak.., tahan.., Zis," desis Mbak Siti sambil meraih kepala Azis dan membenamkannya keselangkangannya.

Beberapa menit berlalu, azis menyudahi jilatannya. Kemudian dia berdiri sambil melepaskan
seluruh pakaiannya. Setelah semuanya terlepas, Azis meraih penisnya yang sudah setengah tegang.
Dikocok-kocoknya penisnya sendiri hingga tegang penuh. Setelah dirasa cukup Azispun menempelkan penisnya kelubang vagina Mbak Siti. Didorongnya tubuh Mbak Siti, hingga terlentang diranjang. Kedua kaki Mbak Siti diangkat tinggi-tinggi, hingga ujung kaki Mbak Siti berada diatas bahunya.

Dengan sekali dorongan saja, penis Azis melesat masuk ke lubang vagina Mbak Siti yang telah basah dan memerah.
"Aow Zis, pelan-pelan sayang," jerit Mbak Siti.
Tanpa menghiraukan jeritan Mbak Siti, Azis memaju mundurkan pantatnya, membuat penisnya
keluar masuk dilubang vagina Mbak Siti.
"Zis.., teruss.., sayang.., sodok teruss," pinta Mbak Siti penuh nafsu.
"Mbak.., enak.., banget.., Mbak," sahut Azis.
Azis semakin mempercepat sodokkannya ketika dirasakannya vagina Mbak Siti berkedut-kedut, otot-otot vagina Mbak Siti menegang dan menjepit penisnya.

"Zis,..akuu.., mauu.., ke., keluarr," teriak Mbak Siti.
Beberapa menit kemudian Mbak Siti menjerit sangat keras,"
Ziss.., akuu.., keluarr,".
Tubuh Mbak Siti mengejang. Tangannya mencengkeram sprei dengan keras. Dan Mbak Sitipun meraih orgasmenya. Cairan-cairan hangat merembes dari lubang vaginanya. Membasahi penis
azis.

"Kamu belum keluar Zis," tanya Mbak Siti beberapa saat setelah berhasil menguasai dirinya.
"Mbak akan puaskan kamu Zis," kata Mbak Siti, sambil menarik tubuhnya. Mbak Siti kemudian menungging, membelakangi Azis, dengan kaki berpijak dilantai sementara tangannya mencengkeram tepi ranjang.
"Zis, masukkin penismu keanusku," perintah Mbak Siti, sambil meraih penis Azis yang ada dibelakang pantatnya. Azis memajukkan pantatnya, hingga penisnya menyentuh lubang anus Mbak Siti.
"Dorong Zis, dorong," pinta Mbak Siti tak sabaran. Azis menuruti kemauan Mbak Siti, didorongnya pantatnya lebih maju. Dan sedikit demi sedikit batang penisnya memasuki lubang anus Mbak Siti. Setelah seluruh batang penisnya masuk, Azis mulai memaju mundurkan pantatnya. Sempitnya lubang anus Mbak Siti menjepit penis Azis. Mbak Siti mengimbangi gerakkan Azis dengan menyodok-nyodokkan pantatnya, sambil mencucuk-cucuk vaginanya sendiri.

Azis semakin bersemangat mendorong-dorong pantatnya, saat dirasakannya penisnya berkedut-kedut.
"Mbakk.., akuu.., mau., keluarr," jerit Azis dengan nafas terengah-engah.
"Aku juga Zis, kita keluarin bareng Zis," sahut Mbak Siti.

Beberapa menit kemudian Azis merasakan otot-ototnya menegang. Dan crot.. crot.. crot..
Azis menumpahkan spermanya didalam lubang anus Mbak Siti.

Malam itu mereka bersetubuh sampai pagi. Sampai badan mereka kelelahan dan tertidur. Sejak saat itu, hampir setiap malam mereka menikmati persetubuhan. Azis ketagihan atas pelayanan yang diberikan Mbak Siti. Begitu juga Mbak Siti sangat puas. Rasa kesepiannya yang telah setahun
ditinggal suaminya, kini terobati. Nafsu birahinya yang meledak-ledak kini tersalurkan.

Rabu, 15 April 2009

kok bisa gitu sih?

Namaku Dika. Aku mau cerita tentang kejadian yang pernah ku alami waktu aku duduk di kelas tiga SD dulu. Umurku belum sampai sepuluh tahun waktu itu. Jangan salah sangka dulu lho. Ini kejadian bukan tentang diriku. Tapi tentang orang yang sangat kuhormati.

Aku adalah anak pertama dari papa dan mamaku yang asli turunan Sunda. Papaku, Dadang Sukmana, adalah seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang elektronika di Tangerang. Perusahaan itu sedang maju pesat usahanya. Papaku sudah menduduki jabatan kepala divisi saat itu. Sedangkan mamaku, Yuyun Sukmana, hanya ibu rumah tangga biasa. Yang sangat telaten merawat keluarganya. Kehidupan kami bisa dibilang cukup sejahtera.

Seingatku, sejak dulu, rumah kami selalu ramai. Karena banyak keluarga yang suka menumpang. Saat itu yang menumpang di rumah kami ada dua orang. Yang satu adik mamaku yang paling bungsu. Laki-laki. Dedy namanya. Aku memanggilnya Om Dedy. Usianya masih sembilan belas tahun. Baru di terima kuliah di Jakarta sini. Mamaku memang memaksanya untuk tinggal di rumah kami. Padahal waktu datang ke Jakarta dia bilang pengen kos aja. Tapi mama beralasan kalo nanti om Dedy kos, ia tak bisa mengawasinya. Dan kuatir om Dedy nanti terjerumus. Saat itu aku kurang mengerti arti terjerumus yang dimaksukan mamaku itu.

Satu lagi Mbak Neny. Sepupuku, keponakan papa. Ia masih sekolah kelas dua SMA. Orang tuanya, adik papaku memang kurang mampu. Jadi papa membawanya ikut kami supaya bisa disekolahkan olehnya.

Kedua orang tuaku memang suka membantu keluarga. Padahal masih ada saudara orang tuaku yang lebih mampu dari kami. Tapi mereka tak seperti orang tuaku. Gak ada yang bersedia dijadikan tempat tumpangan keluarga. Dulu pernah ada beberapa keluarga yang lain. Namun semuanya udah pergi. Ada yang karena sudah menikah, atau mendapat pekerjaan di kota lain.

Papaku orangnya doyan olah raga. Segala olah raga dia suka. Kata mama waktu sekolah dan kuliah dulu papaku punya segudang prestasi olah raga. Mulai dari karate sampe catur. Mulai dari karambol sampe maen golf, hehehe. Aku sih jelas percaya. Karena di rumahku banyak sekali piala-piala, piagam penghargaan dan medali yang menjadiu bukti prestasi olah raga papaku.

Om Dedy juga begitu. Maksudku dia juga doyan olah raga kayak papa. Mungkin karena itu papaku dan om Dedy kompak banget. Kalau udah ngomongin olah raga mereka bisa tahan berjam-jam. Meski kurang ngerti, aku suka dengerin mereka ngobrol soal olah raga. Atau mantengin mereka berdua yang sedang serius maen catur sampe lupa waktu dan kadang lupa makan. Kalo udah begini ibuku bakalan ngomel-ngomel pada mereka berdua. Tapi bukan ngomel marah lho, ngomel sayang.

Mereka berdua juga hobby banget nonton pertandingan sepak bola. Terserah mau di stadion atau di televisi. Kalau nonton di televisi mereka betah nongkrongin layar televisi dari tengah malam sampe pagi. Sementara penghuni rumah yang laen, termasuk aku, udah lelap dibuai mimpi.

Setiap pagi, papa dan om Dedy rajin jogging keliling kompleks rumah kami. Setiap hari Minggu pagi selesai jogging, ada acara tambahan, mereka pergi berenang ke kolam renang. Aku sering di ajak serta juga. Tapi karena mungkin aku masih kecil, rasanya aku lebih suka tidur daripada ngikutin mereka jogging pagi-pagi dan dilanjutin berenang. Abis masih dingin banget sih.

Kalo mamaku kompaknya dengan Mbak Neny. Mereka berdua hobi dengan kegiatan rumah tangga. Merangkai bunga, bersih-bersih perabotan rumah, atau bikin kue dan segala jenis masakan lainnya. Mereka suka banget nyobain resep-resep baru. Yang untung aku, karena untuk nyobain makanan yang mereka buat adalah jatahku. Makanya waktu kecil dulu badanku agak buntel dikit. Tapi kalo sekarang udah enggak dong.

Aku juga punya adik lho. Namanya Rini. Umurnya dengannya selisih tiga tahun. Jadi, waktu aku kelas tiga itu dia belon sekolah. Aku sayang sekali padanya. Anaknya lucu dan ngegemesin. O, ya aku bakalan punya adik satu lagi. Mamaku sedang hamil tua saat itu. Tinggal menunggu hari melahirkan saja. Karena itu sejak kemarin mamaku sudah ngungsi ke rumah nenekku di Bandung. Ibunya mamaku dan om Dedy. Mama ngungsi kesana karena kuatir nanti kalau ibuku harus melahirkan mendadak saat papaku kerja gak ada yang bisa nganter ke rumah sakit.

Sejak mama ngungsi, tinggallah Papa, aku, om Dedy, dan Mbak Neny di rumah. Rini adikku dibawa serta ke rumah nenek. Kalau siang gak ada yang ngawasin dia. Aku, om Dedy, dan Mbak Neny sekolah atau kuliah. Sedangkan papa kerja. Sementara kami tidak punya pembantu. Karena segala sesuatu dikerjakan oleh mamaku dan Mbak Neny berdua saja.

Papaku masih cukup muda waktu itu. Umurnya baru 30 tahun. Sementara ibuku 28 tahun. Mereka memang menikah pada usia yang masih cukup muda. Papa masih kuliah waktu itu. Mamaku juga. Tapi karena udah cinta ya mau diapain lagi. Mereka menyelesaikan kuliah dalam keadaan sudah menikah.

Waktu itu hari Sabtu. Malamnya ada pertandingan sepak bola di televisi. Seperti biasa, Papaku dan om Dedy sudah merencanakan untuk menonton pertandingan malam itu. Padahal besoknya papa dan kami sekeluarga, rencananya pagi-pagi mau ngelihat ibu ke Bandung. Tapi karena gila bola dia gak peduli bakalan ngantuk di perjalanan. Alasannya, perjalanan besok yang nyupir mobil papa adalah supir kantornya. Jadi selama perjalanan dia bisa tidur di mobil.

Dari sejak sore om Dedy tidur di kamar. Katanya persiapan supaya gak ngantuk pas nonton nanti. Sementara Papaku sepulang kerja juga langsung tidur di kamarnya. Sama seperti om Dedy, katanya juga untuk persiapan.

Kata om Dedy, pertandingan bolanya dimulai jam satu dini hari. Aku selalu bilang padanya pengen ikutan nonton juga. Tapi tetap saja aku tak bisa ikutan. Jam sembilan malam aja mataku udah ngantuk. Seperti juga hari ini. Padahal tadi aku sudah ikutan om Dedy tidur. Tapi kok tetap ngantuk juga ya?

Biasanya mama yang ngelonin aku sampai tertidur. Tapi karena mama tidak ada di rumah maka Mbak Neny yang menggantikan tugas mama. Dia ngelonin hingga aku tertidur. Setelah aku tertidur dia kembali ke kamarnya.

Om Dedy juga tidur di kamarku ini. Tapi mana mau om ku itu ngelonin aku. “Kamu udah gede, gak perlu dikelonin lagi,” katanya suatu kali. Aku sih gak peduli apa yang dia bilang. Tidur dikelonin itu enak kok. Lagian juga ada mamaku kok yang bersedia ngelonin aku, atau Mbak Neny. Ngapain juga dia sewot.

Rasanya aku baru tertidur sebentar saja. Ketika aku terbangun tiba-tiba. Kulihat jam dinding di kamarku, masih pukul setengah tiga dini hari. Apa karena aku tadi sudah tidur ya jadi aku terbangun malam ini? Gak tau deh. Yang pasti aku senang aja terbangun. Jadi bisa ikutan nonton bola dengan papaku dan om Dedy.

Aku meninggalkan kamarku dan menuju ruang keluarga, tempat kami biasanya nonton televisi. Tapi disana gak ada Papa dan om Dedy. O, iya aku ingat. Tadi papa ngajak om Dedy nonton di kamarnya saja. Karena mama gak ada. Kata papa kalo nonton disana, abis nonton bisa sekalian tidur.

Di kamar orang tuaku itu memang ada televisi. Sama besarnya dengan televisi di ruang keluarga ini. Kalo gak salah ukurannya 29 inci. Di kamar itu juga ada video tape. Papa sama mama suka nonton video malam-malam. Kalo aku tiba-tiba datang papa langsung matiin video itu pake remote control. Aku gak ngerti kenapa papa suka gitu. Emang nonton apaan sih berdua? Sampe aku gak boleh ikutan lihat.

Aku menuju kamar orang tuaku. Seperti biasa, kamar itu gak terkunci. Aku membuka gerendel pintu pelan-pelan. Pengen ngejutin papa sama om Dedy. Mereka pasti kaget ngelihat aku bisa bangun dini hari kayak gini. Gerendel sudah kuputar. Pintu pelan-pelan kugeser membuka. Tapi kok gak ada suara riuh pertandingan sepak bola. Yang ada suara orang kayak kesakitan. Merintih-rintih. Ada apa sih?

Aku masuk ke dalam kamar. Ruangan dalam kamar orang tuaku terlihat remang-remang. Sumber cahaya hanya berasal dari televisi yang menyala. Suara televisi tidak memperdengarkan suara pertandingan bola. Tapi suara rintihan-rintihan yang tadi kudengar. Selain dari televisi suara rintihan itu juga terdengar dari atas tempat tidur. Aku segera melayangkan pandanganku kesana. Dan waktu aku melihat ke atas tempat tidur papa aku terkesima.

Memang saat itu aku belum ngerti dengan apa yang kulihat, tapi aku yakin apa yang kulihat itu bukan hal yang biasa. Aku kuatir kalo papa dan om Dedy mengetahui aku melihat hal itu maka aku bisa kena marah. Karena itu aku bersembunyi di samping lemari yang terletak di dekat pintu. Mataku menatap lurus ke atas ranjang. Tatapan bingung dan pengen tahu.

Papaku sama om Dedy lagi ngapain ya? Kok mesti telanjang bulat gitu sih? Lho, lho, papa sama om Dedy kok isep-isepan burung kayak gitu sih? Apa gak jijik? Burung kan di pake buat kencing.

Om Dedy telentang di atas ranjang. Papa nungging diatasnya bertumpu dengan kaki dan tangan papa yang berotot. Posisi mereka berlawanan. Wajah papa di selangkangan om Dedy. Selangkangan papa di atas wajah om Dedy. Mulut papa asik ngisepin burung om Dedy yang keras dan besar. Mulut om Dedy juga asik ngisepin burung papa yang juga besar dan panjang. Mereka ngisepnya kayak ngisep es krim aja. Kayak burung itu rasanya enak banget gitu.

Waktu tuker baju di kolam renang, aku memang pernah liat burung papa dan burung om Dedy. Burung mereka lucu, ada rambutnya. Lebat dan kriting. Enggak kayak burungku yang mulus dari bulu. Kata papa kalau aku besar nanti juga burungku akan besar tumbuh rambut kayak mereka. Tapi perasaanku waktu aku lihat di kolam renang burung mereka berdua gak sebesar dan sepanjang saat mereka isep-isepan burung ini. Gede banget. Kayaknya hampir segede terong ungu yang sering dimasak mamaku deh. Kok bisa sih? Bikin aku bingung aja

Sambil isep-isepan burung, papaku juga ngomong-ngomong dengan om Dedy. Suara mereka mendesah-desah gitu. Kayak orang kepedesan.

“Enak Dedhh..?? ahhhssshhh..,”

“Enak a’ enak bangethh.. sshhh....,”

“Aa’ juga enak Dedhhh... sshhhh... isep yang kuat Dedhhh..,”

“Iyah a’ ahhh.. sshhh... teteh suka giniin aa’ jugah ya sshhhh... mmmppp..,”

“Mana mau diahh sshhh... teteh kamu kan maunya ngentot cepat ajahhh... sshh..,”

Kata-kata ngentot itu baru pertama kali kudengar waktu itu. aku gak ngerti apa artinya waktu itu. Kalo sekarang sih, ya jelas udah ngerti lah. Sekarang kan aku udah dua puluh tahun.

“A’ kontol aa’ gede banget yah. Mulut Dedy gak muat nihh.. sshhh... mmmpphh...,” kata om Dedy sambil terus sibuk mengulum-ngulum burung papa. Waktu itu juga aku ngerti kalo kontol itu nama lain dari burung.

“Masak gak muat sihh.... coba deh.. liat nihh...sshhh..,” sahut papa. Sesaat kemudian papa menggerakkan pantatnya turun. Burung papa yang om Dedy bilang kontol itu masuk sampe dalam ke mulut om Dedy. Rambut burung papa sampe lengket ke bibir tipis om Dedy. Mulut om Dedy sampe membulat lebar gitu. Lucu liatnya. “Tuh, muat kan,” kata papa. Lama juga papa neken pantatnya kayak gitu. Om Dedy kulihat kepayahan memuluti kontol papa yang besar dan panjang itu. Waktu papa mengangkat pantatnya kembali dan mengeluarkan kontolnya dari mulut Om Dedy, omku itu protes pada papa. “Aa’ jahat deh. Kontol aa’ sampe nembus kerongkongan Dedy tuh. Dedy sampe gak bisa napas,” katanya. Burung papa kulihat mengkilap. Basah kuyup dengan cairan bening tapi agak kental. Kayaknya itu ludah om Dedy.

“Gak bisa napas ya. Sorry-sorry. Kalo gitu gantian ya. Aa’ gituin kontol Dedy juga deh,” kata papa seperti membujuk. Sesaat kemudian papa langsung memasukkan seluruh kontol om Dedy ke dalam mulutnya. Hidung mancung papa sampe kena rambut burung om Dedy. Seperti om Dedy tadi, mulut papa juga jadi lucu. Membulat lebar.

Om Dedy kudengar merintih-rintih. “Ohhhh... ohhhh.... enak banget a’ ohhh... ssshhhh..........,” katanya. Sementara papa menekan-nekan kepalanya di selangkangan om Dedy itu berkali-kali. Pantat om Dedy terangkat-angkat ke atas beberapa kali. Menekan burungnya dalam-dalam ke mulut papaku.

Setelah beberapa saat papa melepaskan burung om Dedy dari mulutnya. Kepalanya kemudian ditolehkannya ke belakang melihat wajah om Dedy yang berada dibawah selangkangannya. Papaku senyum sambil ngomong, “Gimana Ded? Enak kan?” tanyanya.

“Sshhhh... enak banget a’. Sekali lagi dong a’,” katanya meminta lagi.

“Deu yang keenakan. Tadi aa’ gituin protes. Aa’ kasih gitu malah minta nambah. Mau menang sendiri ya,” kata papaku sambil tertawa pelan. Kemudian buah pelir om Dedy dikulum-kulumnya.

“Ahhh... ahhh... udah a’, udah. Gelihh.. sshhhhh...,” kata om Dedy minta ampun.

“Rasain. Itu hukuman buat adik ipar yang mau menang sendiri,” katanya tertawa lagi. Omku nyengir aja. Kayaknya papaku dan om Dedy senang banget deh isep-isepan burung kayak gitu.

Kemudian mereka kembali saling mengulum burung kayak tadi. Mengeluar masukkan burung itu dalam mulut mereka. Sambil sekali-kali menjilat-jilat batang burung mereka yang besar pake lidah. Kepala burung yang bulat kayak jamur itu juga mereka jilat-jilat. Seperti kubilang tadi mereka menjilat-jilat burung itu kayak menjilat es krim aja deh.

Lama juga mereka jilat-jilatan. Sampe kemudian papaku merubah posisinya. Dia membalikkan tubuh hingga searah dengan tubuh om Dedy. Tubuh atletis papa menindih tubuh omku yang juga atletis itu. Bibir papaku lalu menyentuh bibir om Dedy. Kemudian mereka berciuman. Semangat banget. saling balas-balasan ciuman. Sampe lengket kayak di lem begitu. Kok mereka gak ada rasa jijik sama sekali sih? Mulut mereka kan tadi dipake buat ngisep dan jilat burung mereka. Sekarang dipake cium-ciuman. Lagian ciumannya kok kayaknya buas banget gitu ya.

Setelah lama ciuman kulihat papa memalingkan pandangannya ke layar televisi. “Ded.. liat itu deh,” katanya pada omku. Dia mengajak omku untuk melihat layar televisi juga.

Masih tetap dalam keadaan bertindihan mereka melihat layar televisi. Aku jadi pengen tahu juga ada apa sih di layar televisi sampe mereka serius ngelihatnya begitu. Kugeser posisi berdiriku agar bisa melihat apa yang mereka lihat.

Dari tempatku berdiri aku bisa melihat dengan jelas apa yang terpampang di layar televisi itu. Ih, apa-apaan sih itu? Kataku dalam hati. Kulihat di layar televisi ada dua orang kulit putih di atas tempat tidur. Yang satu laki-laki yang satu lagi perempuan. Dua-duanya telanjang bulat kayak papaku dan om Dedy. Yang perempuan nungging kayak anjing. Yang laki-laki menindihnya dari belakang, nungging juga, sambil meluk tubuh yang wanita kuat-kuat. Pantat mereka bergerak-gerak maju mundur berbalasan. Gerakannya cepat dan kuat. Sampe-sampe kudengar bunyi kayak tamparan gitu setiap kali pantat yang wanita bertemu dengan pantat yang laki-laki. Mereka berdua ber hoh.. hohh.. hohh.. dengan suara keras dan tersengal-sengal. Itu orang lagi ngapain sih berdua? Pikirku.

“Enak banget ya Ded,” kata papa mengomentari apa yang dilihatnya di layar televisi.

“Iya. Kenapa emangnya a’? Aa’ pengen begituan juga?” tanya om Dedy.

“Kalo kamu gak keberatan,” sahut papaku sambil mencium dagu omku dengan lembut.

“Ngerayu nih,” kata omku tersenyum.

“Enggak sih. Kalo gak mau juga gak papa,” jawab papaku.

“Emang sama teteh gak cukup apa? Sampe-sampe minta sama adiknya juga,” kata om Dedy lagi. Tangannya mengelus-elus punggung papa dengan lembut.

“Abis udah lama sih aa’ gak gituan sama teteh kamu. Dia kan lagi hamil besar. Gak mungkin gituan,” kata papa pelan. Hidungnya digesek-gesekkannya pada hidung om Dedy.

“Lho, kan Dedy udah bantu selama ini. Kalo bukan aa’ mana mau Dedy ngulum-ngulum kontol kayak selama ini. Emang belum cukup ya?”

“Dedy udah bantuin aa’ selama ini aa’ ucapin terima kasih sekali. Tapi tetap aja kulum-kuluman kontol gak sama dengan yang gituan kan Ded,”

“Aa’ sih. Nafsunya gede banget,”

“Abis mo gimana lagi. Udah bawaan lahir,”

“Jadi gimana dong?”

“Kalo Dedy gak mau ya gak papa. Nanti aa’ cari perek aja deh,”

“Ih... jangan gitu dong. Entar aa’ kena penyakit kesian tetehnya Dedy dong,”

“Abis Dedy gak mau,”

“Emang Dedy ada bilang gak mau?”

“Kalo gitu mau ya?”

“Hmmmm... sakit gak a’. Kan aa’ harus masukinnya di silit Dedy. Kontol aa’ kan gede banget. Apa muat silit Dedy yang sempit kayak gini?”

“Ya dicobain pelan-pelan. Buktinya banyak juga kan film bokep yang ngentotnya di silit. Kok mereka keenakan?”

“Jadi mau dicoba nih?”

“Kalo Dedy mau. Kalo gak mau ya aa’ gak maksa,”

“Ngambek nih ceritanya? Jangan ngambek dong aa’ sayang. Ya udah kita cobain aja. Tapi kayaknya harus pake pelicin ya. Supaya lebih mudah,”

“Beneran nih?”

“Enggak, boongan. Ya beneran dong. Sana gih cari pelicin,” kata om Dedy mendorong tubuh papa agar melepaskan tindihannya dari dirinya.

“Makasih adik iparku sayang,” kata papa senang. Pipi om Dedy diciumnya. Kemudian papaku bangkit dan menuju meja rias mamaku. “Pake baby oil kayaknya licin ya Ded,” kata papaku sambil menunjukkan botol baby oil milik mamaku.

“Dicobain aja. Siniin,” kata om Dedy meminta botol baby oil itu dari papa. “Aa’ sini dekat Dedy. Biar kontol aa’ Dedy lumurin baby oil ini,”

“Silit kamu juga dilumuri Ded,” kata papaku sambil mendekat kembali ke arah om Dedy yang masih terbaring di atas ranjang. Papaku kemudian berdiri di samping tempat tidur. Dekat dengan kepala om Dedy. Omku itu lalu duduk di atas ranjang. Tangannya dilumurinya dengan cairan baby oil. Kemudian tangan yang berlumuran baby oil itu disapukannya ke burung papaku yang masih keras.

“Kok bisa segede ini sih a’. Tetehku pasti keenakan banget ya kalo dientot aa’?” kata om Dedy sambil mengusap-usap burung papaku dengan tangannya. Melumuri babay oil itu ke batang burung papaku.

“Entar kan Dedy bisa rasain sendiri gimana enaknya,” jawab papaku tersenyum. Tangannya membelai rambut om ku yang lurus pendek.

“Kayaknya udah cukup ya a’,” kata om Dedy.

“Iya. Udah-udah. Sekarang silit Dedy deh dilumuri baby oil. Sini aa’ yang lumurin. Dedy ngangkang deh disitu,” kata papa.

Om Dedy mengikuti apa yang papa katakan. Ia berbaring di atas ranjang dan mengangkangkan pahanya yang kokoh lebar-lebar dibantu kedua tangannya. Kemudian papa melumuri jarinya dengan baby oil. Jari yang berlumuran dengan baby oil itu kemudian diselipkannya ke lobang pantat omku.

“Yang banyak a’, supaya gak sakit,” kata omku.

“Iya. Ini juga udah banyak banget,” sahut papaku.

Setelah dirasa cukup, papaku meletakkan botol baby oil itu kembali ke atas meja rias mamaku. Kemudian ia kembali mendekat ke arah om Dedy. Mereka berdua kulihat tersenyum-senyum.

“A’ pelan-pelan ya. Ini pertama kali lho buat Dedy,”

“Santai aja. Aa’ akan buat Dedy melayang-layang deh,” kata papaku. Kemudian papaku memegang paha om Dedy. Menariknya hingga posisi om Dedy tepat di tepi ranjang. Paha om Dedy lalu disuruhnya mengangkang lebar. Papa mendekatkan selangkangannya ke selangkangan om Dedy. Karena terlalu tinggi, papa terpaksa harus menekukkan kakinya sedikit, agar selangkangannya tepat di depan buah pantat omku.

Aku terus mengawasi apa yang mereka lakukan. Bingung. Kok mereka bisa begitu sih? Pikirku. Kalo yang di layar televisi kan laki-laki dengan perempuan. Sementara papaku dan omku kan sama-sama laki-laki. Apa bisa juga?

“Tahan ya Ded. Teteh kamu juga awalnya sakit. Tapis etelah itu keenakan deh dia,” kata papaku tersenyum.

“Pelan-pelan ya a’,” kata om Dedy.

Papaku lalu pelan-pelan memasukkan kontolnya ke dalam lobang pantat omku. Gila! Apa bisa lobang pantat sesempit itu? pantat papaku bergerak maju. “Akh... akhhhh.... sakithh.. sshhh...,” erang omku.

“Tahan Ded. Tahan duluhh.. sshhhh.... sempit banget Ded. Jauh lebih sempit dari memek,” kata papaku. Satu lagi perbendaharaan kata-kataku bertambah. Memek.

Papaku terus memasukkan kontolnya yang besar itu ke dalam lobang pantat omku. Sedikit demi sedikit. “Tahan nafas Ded... tahan nafas.. erghhh.......,”

“Ohhhhh....aakhhh..... akhhh.......,” omku terus mengerang.

Dan akhirnya burung papaku memang bisa masuk seluruhnya. Benar-benar gila.

“Tuh Ded, udah masuk semua kontol aa’ di silit Dedy,” kata papaku.

“Gila a’. Kok bisa ya,” kata omku sambil melihat lobang pantatnya sendiri yang sudah terisi kontol papaku. Dia juga terlihat tak percaya.

“Gimana rasanya Ded?” tanya papaku.

“Penuh a’. Silit Dedy rasanya penuh banget,”

“Aa’ goyang ya sekarang,”

“Cobain deh a’,”

Papaku mulai menggerakkan pantatnya perlahan. Omku terlihat keskaitan.

“Ohhh... sakit a’, sakithh sshhh....,”

“Cuman sebentar Dedhhh,... sshhh... entar juga hilang ohhh.... sempit...sempit Dedhhh...,” kata papaku. Tak peduli omku mengatakan sakit, papaku terus menggoyang pantatnya. Pelan-pelan.

“Aa’ ohhh... aa’.... sakithhssshhh... shhh.... shh...... pelan a’,”

Papaku tetap tak peduli. Dia bergoyang terus. Semakin cepat malah. Dada bidang omku dilumatnya dengan buas. Tangannya meremas buah pantat omku kuat-kuat. Mencengkeram.

“Ohhhh... ohhh... ohhh... ohhh.... yahhh... yahhh... yahhh... enak bangethsshhhhh... ahh... ahh... dedhhh.. luar biasahh.,... sshh... ohhh..,” racau papaku. Kulihat tubuhnya mulai keringatan. Apalagi om Dedy.

“Duhhh... hehhhhhhhgghhhh... sshhakithh... ssjhhhhh.... ahhh... ahhh....,”

“Hohh... hohh... hohh... hohh... hohh... hohh... hohh...yahhhh.. yahh..,”

Aku benar-benar bingung. Tak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku pernah lihat anjing kawin. Dan bentuknya mirip seperti ini. Apakah artinya papaku kawin dengan omku. Tapi apa bisa? Waktu itu yang kutahu anjing jantan kawin dengan anjing betina. Artinya laki-laki kawin dengan perempuan. Seperti papaku dan mamaku. Lalu yang dilakukan oleh papaku dan omku ini apa dong? Pikirku waktu itu.

Aku melihat papaku sangat berbeda dengan biasanya waktu itu. papaku yang selama ini terlihat lembut, waktu itu kulihat sangat buas. Ia tak peduli dengan omku yang sangat keskaitan kulihat. Pantat papaku terus saja bergoyang. Malah semakin cepat dan menghentak-hentak. Tapi anehnya meskipun omku berkali-kali bilang sakit, dia tak berusaha melepaskan diri dari papaku. Malah ketika papaku mencium bibirnya, omku itu membalas ciuman papa dengan penuh semangat. Mereka berciuman sampe lengket seperti yang tadi kulihat.

Dan lagi ketika papaku bilang kontolnya mau dilepasin dari lobang pantat om Dedy, omku itu malah melarang. Malah kemudian dia memegang pantat papaku, ikut menggoyang-goyang pantat papaku agar bergerak semakin cepat dan keras. Tapi itulah, mulutnya tetap saja bilang sakit dan sakit. Aku bener-bener gak ngerti lihat omku itu. kesakitan, tapi membiarkan saja papaku memberikan rasa sakit itu padanya.

Lama sekali mereka melakukan hal itu. sampe beberapa kali berganti posisi. Ada yang omku nungging terus digenjot papaku dari belakang. Ada yang papaku tiduran terus omku duduk diatas selangkangan papaku dan menggerak-gerakkan pantatnya naik turun. Ada yang papaku dan omku sama-sama berdiri, papaku genjot pantatnya dari belakang. Banyak deh. Macam-macam. Aku benar-benar bingung.

Kulihat di layar televisi juga gitu deh. Laki-laki dan perempuan itu beberapa kali tuker-tuker posisi. Intinya tetap aja pantat laki-laki itu bergoyang-goyang cepat dan keras.

Sampai kemudian akhirnya aku nekat aja dekatin papaku dan omku itu. Mau dimarahin terserah deh. Yang penting aku pengen tahu papaku lagi ngapain dengan omku. Lagipula udah lama banget mereka gituan terus. Hampir satu jam deh. Kakiku udah kesemutan. Kapan nonton sepak bolanya lagi, pikirku.

Waktu itu omku telungkup diatas ranjang. Pantatnya sedikit menungging keatas karena disumpal bantal dibawah pinggangnya. Papaku menindihnya dan tetap menggerakkan pantatnya naik turun dengan cepat. Kontol papaku keluar masuk lobang pantat omku itu. aku berdiri disamping tempat tidur. Kayaknya saking keasikannya menggoyang pantatnya sambil mulutnya menciumi punggung omku yang keringatan, papaku tak sadar akan kehadiranku didekatnya. Omku juga tak tahu. Karena dia memejamkan matanya sambil merintih-rintih.

“Deddhhh....dedhhh.. aa’ mau sampai Dedhhh...,” kata papaku. Pantatnya bergerak semakin cepat.

“Pa! Papa! Papa ngapain pa?” tanyaku sambil menepuk punggungnya.

Papaku menoleh kepadaku. Wajahnya yang merah dan bersimbah keringat terlihat sangat terkejut. “Dika?!!!!” serunya. Omkupun kaget. Dia juga menoleh ke arahku. Gerakan pantat papaku terhenti seketika.

“Sejak kapan kamu disini?!” tanya papaku memelankan suaranya kemudian. Omku terlihat sangat kebingungan.

“Dari tadi pa. Dari papa sama om Dedy isep-isepan burung,” sahutku tanpa rasa berdosa.

“Apa?! Udah dari tadi?!”

“Iya pa. Papa sama om Dedy lagi ngapain sih? Sampe keringetan kayak gini? Telanjang bulat lagi,” kataku.

“Jadi Dika udah liat semuanya?” papaku serta merta mengambil remote control dan mematikan video tape. Tapi udah percuma, aku udah liat semuanya.

“A’ giman nih a’?” tanya omku. Dia terlihat ketakutan.

“Udah dong pa. Tadi Dika bangun mau ikutan nonton sepak bola bareng papa dan om Dedy. Tapi kok malah Dika lihat papa sama om Dedy main isep-isepan burung. Ya Dika gak mau ganggu. Tapi karena Dika liat papa udah lama banget sama om Dedy gitu-gituan terus makanya Dika datengin. Nonton bolanya kapan pa?” tanyaku.

“Nonton bolanya udah tadi sayang. Sekarang papa sama om Dedy lagi senam. Lihat nih badan papa sama om Dedy keringetan kan. Kalo Dika liat papa sam om Dedy dari tadi pantat papa goyang-goyang kan kayak gini nih,” papaku kembali menggoyang pantatnya naik turun. Omku kelihatan bingung melihat papaku. “Nah ini kan kayak push up sayang. Dika sering kan liat papa sam om Dedy push up?”

“Sering sih pa. Tapi ini push upnya kok laen sih? Kok burung papa sampe masuk-masuk lobang pantat om Dedy kayak gitu?”

“Ini push up khusus sayang. Supaya badan lebih sehat,” sahut papaku. Dia terus menggerakkan pantatnya seperti tadi. “Sekarang Dika keluar dulu ya. Nanti kalo papa sama om Dedy udah selesai Dika boleh masuk sini lagi,” kata papaku.

“Enggak ah pa. Dika pengen liat aja. Dika kan juga sering liat papa sama om Dedy senam. Kok ini gak boleh?” tanyaku.

“Kalau gitu ya udah. Dika jangan berisik ya. Papa siapin dulu senamnya dengan om Dedy. Sebentar lagi kok. Kalo Dika mau tidur, ya tidur aja disitu sayang,” kata papaku sambil tersenyum padaku.

“A’ gak papa nih dilihat Dika?” tanya omku.

“Habis mo gimana lagi Ded. Aa’ rasanya udah tanggung banget nih,” sahut papaku.

“Nanti kalo ada apa-apa gimana dong?” tanya omku bingung.

“Liat entar aja deh,” sahut papaku.

Setelah itu papaku kembali melanjutkan gerakan pantatnya. Semakin cepat dan keras. Nafasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian gerakannya terhenti mendadak. Pantatnya menekan kuat-kuat. Aku melihat buah pantatnya yang putih mendenyut-denyut dan mengempot. Dari mulut papaku keluar erangan tertahan sambil hidungnya mendengus-dengus yang keras beberapa kali. Tubuhnya kelojotan dan menegang. Hal itu terjadi untuk beberapa detik kedepan. Setelah itu tubuhnya terbaring lemas diatas tubuh omku. Nafasnya memburu. Dadanya yang bidang bergerak naik turun dengan cepat diatas punggung om Dedy.

Beberapa saat kemudian ia membalikkan tubuhnya. Berbaring disebelah om Dedy yang masih menelungkup. Aku lihat kontol papaku yang masih keras, mengkilap dan belepotan cairan putih yang kental. Kayak susu kental manis. Lobang pantat omku yang kulihat menganga, juga belepotan cairan kental itu.

Setelah nafas papaku kembali normal dia menggenakan kembali pakaiannya. Demikian juga omku. Papaku kemudian berkata padaku agar aku tidak menceritakan apa yang aku lihat malam itu pada siapapun termasuk mamaku.

“Kenapa pa? Kok gak boleh dibilang?” tanyaku bingung.

“Karena senam yang papa dan om Dedy kerjakan tadi hanya khusus untuk laki-laki. Kalau mama tahu dia apsti melarang. Mama kan suka kuatir sayang. Liat aja kalau papa sama om Dedy main catur lama-lama. Mama kamu kan suka marah,”

“O.. gitu ya pa. Jadi gak boleh dibilangin?”

“Iya sayang. Anak papa kan pinter. Pasti denger apa yang papa bilang,” kata papaku.

“Oke deh kalo gitu pa,” kataku. Dan aku memang memegang janjiku pada papa itu sampai saat ini. Yang kuingat, sejak itu papa menjadi semakin baik denganku. Apa yang kuminta selalu dipenuhi. Padahal kalo sebelumnya papa tidak selalu memenuhi apa yang kuminta. Mama yang sering mengingatkan papa agar tak meperlakukanku dengan manja seperti itu.

Saat aku duduk di bangku SMP, dimana aku mulai mengenal sex, akhirnya aku paham apa yang terjadi malam itu antara papaku dengan om Dedy. Aku ingat, akhirnya aku menanyakan hal itu pada om Dedy. Mengapa mereka bisa melakukannya padahal mereka bukan homosex sepengetahuanku.

“Waktu itu mama kamu hamil kan Dik. Papa kamu libido seksualnya tinggi banget. Mau nyalurin dengan perek dia takut penyakit. Karena gak tau mau nyalurin sama siapa akhirnya dia minta bantuin om. Awalnya cuman bantuin ngocok doang. Lama-lama ya meningkat sampai oral dan akhirnya apa yang kamu lihat malam itu. Waktu itu juga om kan lagi masa-masa dimana keingintahuan sex sangat tinggi. Akhirnya ya nyambung. Tapi kami gak pernah melakukan lagi kok setelah mama kamu bisa melayani papa kamu. Om juga lebih enak ngelakuinnya sama pacar om dong. Lagian kalo gituan sama papa kamu, kan om yang kena jatah sakitnya doang. Mana mau papa kamu di anal sama om,” kata om Dedy saat kami berdua sama-sama bersiap untuk tidur. Aku kelas dua SMP waktu itu.

“Sakit apa enak sih om? Buktinya om gak minta lepasin sama papa,”

“Ada enaknya om akui. Tapi tetap aja sakit. Lo bayangin aja “anu” papa elo kan segede terong begitu. Masuk ke lobang pelepasan om yang sempit kayak gini. Lagipula om juga gak enak nolak papa kamu kan. Om udah banyak dibantu kayak gini,” kata omku.

“Jadi setelah itu gak ada keinginan untuk nyobain lagi om?”

“Kadang sih ada. Tapi om pikir juga untuk apa. Itukan gak boleh sebenernya. Kemaren juga karena darurat kan. Lagian papa kamu juga gak pernah ngajakin lagi,” katanya sambil membalikkan badannya membelakangiku. “Udah deh. Tidur aja. Gak usah ngomongin itu lagi,” katanya.

“Kalo ada yang ngajak emang mau mas?” tanyaku.

“Ya gak tau juga,” jawabnya tanpa membalikkan badannya kepadaku. “Emang kenapa Dik?” tanyanya.

“Soalnya Dika pengen ngajakin om Dedy gituan,” sahutku.

“Apa?!!” tanyanya sambil membalikkan tubuhnya menghadap padaku dengan cepat.

“Habis kayaknya Dika lihat waktu itu om sama papa keenakan banget. Dika jadi terbayang terus. Jadinya pengen,” sahutku sambil neyengir padanya.

“Kamu masih kecil banget Dik. Masih berapa tahun umur kamu,” katanya menatapku dalam-dalam. Tapi jemarinya membelai rambutku.

“Masak masih kecil sih om. Gini-gini tinggi Dika udah 170 centi meter lho om,” sahutku lagi. Memang meskipun waktu ituaku masih kelas dua SMP tapi badanku udah tinggi lho. Dan mulai terbentuk karena rajin berenang bareng papa dan om Dedy.

“Kamu pengen mencobanya?” tanyanya semakin antusias. Tubuhku yang ramping namun cukup berisi mulai dirabanya.

“Om mau ngajarin kan?” tanyaku lembut. Kucium pipinya.

“Jahat banget dong kalo om gak ngajarin keponakannya sendiri,” sahutnya. Akhirnya terjadilah. Omku memperjakaiku malam itu. Dia benar-benar penuh birahi sekali malam itu. Mungkin karena sudah lama tak melakukannya. Aku benar-benar kerepotan dibuatnya. Yang paling asik saat dia mengijinkan aku menganalnya, seperti apa yang telah dilakukannya padaku sebelumnya berulang-ulang.

Sekarang ini om Dedy udah menikah. Sementara aku masih kuliah. Sampai saat ini tak pernah aku menanyakan pada papaku mengapa ia melakukannya dengan om Dedy dulu. Jawaban omku waktu aku SMP dulu sudah cukup buatku. Sampai saat ini papaku tetap sangat baik padaku. Berusaha memenuhi segala apa yang kuminta.

Sekali-kali aku ketemu dengan om Dedy. Pada usia tiga puluhan dia kulihat semakin matang dan jantan saja. Tetap masih rajin olah raga, sehingga tubuhnya tetap prima. Kalau ketemu dan ada peluang, aku pasti melakukannya dengan omku itu. Lumayan kan, daripada coli, capek sendiri.

Tamat

Menjelang Pernikahan Mas Randy

"Ndre, abis sekolahan langsung balik ya, jangan kemana-mana lagi" pesan Nyonya Vera pada anaknya, Andre, yang masih duduk di kelas 3 SLTP melalui hand phone. 

"Kenapa emangnya Ma?" tanya Andre. 

"Thomas gak ada temennya tuh di rumah. Mama dan dan Tante Serly mau belanja untuk kebutuhan pesta Mas Randy nih," 

"Lho, kan ada Papa dan Om Darwin di rumah," sambung Andre lagi. 

"Papa dan Om Darwin katanya akan ke rumah Om Dani, membicarakan persiapan untuk resepsi, Pokoknya kamu cepat ulang ya. Thomas kan deket sama kamu. Kalian bisa maen gim di rumah. Pokoknya cepat pulang deh, Mama udah mau pergi nih, entar kesorean, bla...bla.....," kata-kata Mamanya udah gak didengerin Andre lagi. Dia agak kesal juga, rencananya untuk maen dengan teman-temannya sepulang sekolah, gagal total. 

Mau gak mau dia memang harus pulang nemenin Thomas, sepupunya. Meski kesal, Andre gak mau pusing denger omelan Mamanya karena dia tidak mengikuti apa yang dipesankan oleh Mamanya tadi. Maka, begitu bel tanda usai pelajaran berbunyi Andre segera pulang. 

"Pak Darman, langsung pulang aja deh," katanya pada sopir yang menjemputnya. 

"Gak maen dulu Mas?" tanya Pak Darman, sopirnya. 

"Mau maen gimana Pak, bisa kena omelan Mama entar. Thomas di rumah gak ada yang nemenin," jawabnya kesal. 

Tak bertanya lagi Pak Darman segera melajukan mobil menuju rumah keluarga Andre di kawasan Pondok Indah. 

Thomas adalah anak semata wayang Om Darwin, adik Papanya dengan Tante Serly. Mereka baru tiba Hari Minggu kemaren dari Surabaya. Dalam rangka pernikahan Mas Randy Hari Minggu depan dengan Mbak Tania, Mama meminta Tante Serly untuk membantunya mempersiapkan acara pernikahan itu. Karena itu Om Darwin dan keluarga akhirnya datang ke Jakarta. Om Darwin terpaksa harus cuti seminggu karena itu. Sedangkan Thomas izin dari sekolah. Karena di Surabaya tidak ada yang menjaganya. 

Thomas sebaya dengan Andre. Biasanya kalau keluarga ngumpul memang mereka selalu bersama-sama. Soalnya sepupu yang lain sudah lebih tua dari mereka. Rata-rata sepantaran dengan Randy, kakak Andre satu-satunya. Andre dan Randy memang terpaut jauh umurnya. Hampir 12 tahun. 

Tak lama mobil yang membawa Andre tiba di rumah. Pak Darman segera memarkirkan mobil ke dalam garasi. 

“Lho, Mas Randy ada di rumah ya Pak Darman?” tanya Andre pada sopirnya. Soalnya di garasi dia melihat mobil kakaknya itu parkir. 

“Gak tau Mas Andre, tadi waktu Bapak pergi ke sekolah, Mas Randy gak ada tuh di rumah,” jawab Pak Darman. 

Tak bertanya lagi Andre segera masuk ke rumah. Menuju kamarnya. Biasanya Thomas sedang main gim disana. Di kamarnya dia tak menemukan Thomas. Kamarnya kosong tak ada orang. Yang ditemukannya adalah peralatan gimnya yang berantakan. Mungkin tadi Thomas sempat bermain gim di kamar. 

Setelah melemparkan tas sekolahnya ke ranjang dan membuka sepatu sekolahnya, Andre keluar kamarnya untuk mencari Thomas. Dia menuju dapur, pikirnya siapa tau Thomas sedang makan disana. 

Di dapur juga tak ditemukannya Thomas. Yang ada hanya Mbok Jum, pembantu rumah, yang sedang mencuci piring. 

“Liat Thomas Mbok?” tanya Andre. 

“Tadi makan disini, lima belas menit lalu bareng Mas Randy. Mungkin ke kamarnya Mas Randy. Soalnya tadi Mas Randy ngajak Mas Thomas liat pilem di kamarnya. Katanya ada pilem bagus, baru dipinjemnya,” jawab Mbok Jum. 

“Mas Randy gak ngantor Mbok Jum?” tanya Andre lagi. 

“Katanya udah ambil cuti Mas, sejak hari ini sampe dua minggu ke depan,” jawab Mbok Jum. 

Andre segera menuju kamar Mas Randy. Kamar kakaknya itu terpisah dari bangunan induk rumah. Letaknya dibelakang, seperti pavillyun. Kalau Mas Randy mau pergi atau pulang tanpa melalui bangunan induk rumah juga bisa. Karena ada jalan yang menghubungkan kamarnya dengan garasi. 

Pintu kamar Mas Randy tertutup. Gordyn biru menutupi jendela kaca kamar itu. Lagi nonton pilem apa sih? Kamar kok sampe di tutup-tutup kayak gitu? Tanya Andre dalam hati. Andre segera mendekati pintu kamar. Saat tangannya bermaksud memutar gerendel pintu, tiba-tiba didengarnya suara erangan dari dalam kamar itu. 

Itu kan suara erangan Mas Randy, gumam Andre dalam hati. Pikiran mesum muncul di kepalanya. Jangan-jangan Mas Randy lagi ngentot sama Mbak Tania nih. Kesempatan lagi orang gak ada di rumah. Soalnya memang sering Andre memergoki Mas Randy ngentot dengan Mbak Tania di kamar itu. Malah, bukan hanya dengan Mbak Tania. Beberapa kali Mas Randy juga pernah membawa perempuan lain selain Mbak Tania, untuk ngentot di kamar itu. Biasanya atraksi ngentot yang dilakukan Mas Randy bertepatan pada saat Mama dan Papa Andre sedang tidak ada di rumah. 

Andre segera menuju celah tempat biasanya dia mengintip Mas Randy. Celah itu adalah jendela kecil yang ada di kamar Mas Randy. Jendela kecil itu memang tidak pernah di kunci oleh Mas Randy, paling hanya di rapatkan saja. 

Andre tak pernah ketahuan mengintip dari celah itu. Soalnya Mas Randy kalo ngentot suka gila-gilaan. Tak peduli dengan sekitarnya. Kadang Andre berfikir, jangan-jangan bukan dia saja yang sudah tau kegiatan mesum yang sering dilakukan Mas Randy di kamar itu. Pembantu rumah bukan tak mungkin sudah mengetahuinya juga. Soalnya kalau sudah orgasme Mas Randy suka menjerit tak terkontrol. Membayangkan apa yang akan dilihatnya di dalam kamar, membuat kontol Andre yang lumayan gede itu segera ngaceng. 

Dari celah jendela itu, Andre memandang ke dalam kamar Mas Randy. Pandangannya langsung berumbuk pada tubuh telanjang Mas Randy yang sedang telungkup menindih seseorang. Pantatnya memompa maju mundur dengan cepat. Tubuh Mas Randy yang putih bersih dan kekar itu, basah oleh keringat yang membanjir. 

Astaga!!!!!!! Andre terhenyak. Seperti disambar geledek, ia kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. 

Bukan Mbak Tania yang sedang di tindih oleh Mas Randy. Bukan pula perempuan lain. Tubuh putih bersih yang sedang telungkup diatas ranjang dan sedang ditindih rapat oleh Mas Randy itu adalah tubuh Thomas, sepupunya! 

Sepupunya yang ganteng dan bertubuh langsing atletis itu dilihatnya sedang meringis-ringis sambil mengerang-erang kuat. Sementara diatasnya Mas Randy terus memompa pantatnya dengan gerakan menghentak-hentak kuat. Menimbulkan bunyi tepukan yang cukup kuat akibat pertemuan buah pantat Thomas dan paha Mas Randy yang kokoh. 

Andre melotot tak berkedip melihat aksi kakak dan sepupunya itu. Kontolnya dirasakannya semakin ngaceng. Tubuhnya bergetar menahan gairah. Tangannya mulai meremas selangkangannya sendiri. Andre terangsang melihat aksi persetubuhan itu. 

Diatas ranjang Mas Randy masih terus memompa pantatnya. Mengeluar masukkan kontolnya yang besar ke lobang pantat Thomas. Sementara kedua tangan Thomas melingkar kebelakang, memegang bongkahan pantat mas Randy, meremas-remas. 

“Ohhhh...ohhhhh...Thomasshhhhhh....enak bangethhhhh.......sempithhhhhh...bangethhhhh....lobang pantathhhmuhhhh......,” racau Mas Randy. 

“Mas Randyhhhhh....goyang yang keras Mashhhhh....yang keras Mashhhhhhh.....oh..gituhhhhh Mashhhhhh......,” racau Thomas. 

“Kamu suka Thomashhhhh….kamu sukahhh…….kamu sukahh kontolku dalam pantamuhhh…ohh….sepupu mungilkuhhh…yang tampanhhh...ohhh….,” racau mas Randy. 

“Sukahhh....ohkkkk.....sukahhh...bangethhhhhhh....Mashhhhhh.......kontol Mash Randyhhh...gedeh Mashhhhhh....rasanya pol di dalam Mashhh......okhhhhhh.......,” racau Thomas. 

“Kamuh kesakitanhhh akhhhhhh....kesakitankahh......Thomashhh...,” racau Mas Randy. 

“Gakjhhhh...gakhhhhh lagihhh Mash....enakhhhh....enak.....terusin Mashhhhhh...terushhhhhh...,” racau Thomas. 

Andre semakin gila mendengar percakapan mesum kakak dan sepupunya itu. 

“Enak bangethhh...ohhh....enak bangethhhh.....enak banget...Thomasssshhhhh...,” racau Mas Randy. 

“Enak manah...enak manah....sama memekhh Mbak Taniah...ohhhhh....enak manahh Manasssshhhh?” racau Thomas. 

“Enak pantat kamu Thomas, ahhhhh, enak pantat kamu sayang...ohh..oh...oh...oh...,” racau Mas Randy. 

Demikianlah seterusnya. mas Randy terus memompa kontolnya di lobang pantat Thomas, hingga akhirnya dia menumpahkan spermanya di lobang pantat itu. 

Setelah Mas Randy usah dengan hasratnya gantian Thomas yang menyetubuhi Mas Randy. Mas Randy telentang mengangkang di ranjang sedangkan Thomas menggenjotnya dari atas menelungkup. Sambil ngentot mereka berciuman mesra. 

"Ohh...Thomasshhhhhhhh...enak banget Thomashhhhh....aku gak pernah nyangkahhhh....dientot ternyata enak bangethhhhhh...ohhh...," racau Mas Randy keenakan. 

"Mas Randyhhhh...lobang pantat Mashhh sempit banget..njepit kontolku Mash...enak bangethhh..., 

Setelah beberapa saat akhirnya Thomas orgasme juga. Tubuhnya segera roboh diatas tubuh Mas Randy. sementara di luar kamar Andre juga memuncratkan spermanya. Banyak sekali. 

Tamat 

Ini hanya sekadar cerita selingan. semoga yang baca seneng. kalau tidak ada alur dalam cerita ini ya maklumi aja deh. cerita ini cuman sekadar bantu yang baca untuk membangkitkan birahinya sambil coli. hehehe

Acara pemberkatan pernikahan Mas Randy akan dilangsungkan di gereja pukul sepuluh pagi ini. Andre melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, masih pukul delapan, tapi mamanya sudah sibuk menyuruhnya dan Thomas untuk bersiap-siap sejak pukul tujuh tadi. “Ayo jas hitamnya dipakai sekarang. Kalian kan pengiring pengantin prianya. Kalo gak siap-siap dari sekarang entar repot deh. Ayo dong, dipakai jasnya sekarang,” kata mamanya tadi, dengan suaranya yang nyaring. 

Sebenarnya Andre malas menggenakan pakaian jas. Badannya suka cepet keringetan. Tapi karena dia dan sepupunya, si Thomas, ditugaskan untuk menjadi pengiring pengantin pria, mau gak mau pakaian jas warna hitam dipakainya juga. 

Andre mematut-matut dirinya di depan cermin besar dalam kamar. Meski gerah, penampilannya jadi oke sekarang. Dia merasa semakin ganteng dalam setelan jas hitam itu. akhirnya dia senyum-senyum sendiri. Ge er dengan penampilannya. 

Model jas Andre persis sama dengan yang dikenakan Thomas. Bahan, warna dan modelnya sama. Papanya dan Om Darwin juga sama jasnya dengan yang dikenakan Andre. Hanya Mas Randy yang berbeda. Jas Mas Randy bentuknya seperti tuxedo yang bagian belakangnya lebih panjang dari depannya. 

Andre tersadar kalau Thomas tak ada lagi didekatnya. Karena kegeeran sendiri mengagumi penampilannya dia tak sadar sepupunya itu sudah meninggalkannya sejak tadi. 

Andre meninggalkan kamar, mencari sepupunya itu. Sepupu yang pernah dipergokinya sedang ngentot dengan Mas Randy, kakaknya, beberapa hari lalu. Andre jadi teringat kembali peristiwa itu. “Ihhh.. ada-ada aja deh Mas Randy itu. Si Thomas laki-laki diembat juga. Si Thomas juga edan. Masak dia mau ngentot dengan Mas Randy sih?” katanya dalam hati. Tapi meski gitu Andre bingung juga pada dirinya sendiri. Karena waktu ngelihat mereka ngentot, dia terangsang juga. 

Semua orang seisi rumah sedang sibuk sendiri. Andre nanya ke mamanya dan tantenya dimana Thomas berada malah kena marah. Akhirnya dia mencari Mbok Jum, pembantunya. 

“Thomas kan tadi dimintai tolong Mas Randy buat ngerapihin pakaiannya Mas,” kata Mbok Jum. “Coba liat di kamarnya Mas Randy deh,” petunjuknya. 

Minta tolong ngerapihin pakaian? Masak Mas Randy gak bisa sendiri? Pikir Andre. Sedangkan dia yang masih duduk di bangku kelas 3 SLTP aja bisa beresin pakaian sendiri. Pikiran kotor pada kakaknya itu langsung muncul. Jangan-jangan mereka lagi entot-entotan kayak kemarin lagi. Bayangan pergumulan Mas Randy dan Thoimas kembali muncul di benaknya. 

Bergegas, Andre menuju kamar Mas Randy. Sasarannya, tempat biasanya dia ngintip. Eng ing eng. Begitu matanya dapat melihat pemandangan dalam kamar, kepalanya menggeleng-geleng. Dugaannya benar. Pemberkatan tinggal hitungan beberapa jam saja, tapi kakaknya itu masih menyempatkan juga untuk mengentoti sepupunya, si Thomas. Di dalam kamarnya. Diatas ranjangnya yang sudah dihias menjadi ranjang pengantin! 

“Dasar edan,” guman Andre. Matanya melotot melihat apa yang sedang dilakukannya kakaknya itu dengan sepupunya. Keduanya mengentot diatas ranjang dengan pakaian lengkap. Sepatu hitam berkilat masih melekat di kaki mereka. Hanya saja pipa celana panjang mereka berdua dilepas dari kaki yang sebelah kiri. Soalnya kalau enggak di lepas, mana bisa mereka mengangkat kaki kiri lebar-lebar ke atas seperti aksi mereka saat ini. 

Mas Randy berbaring di belakang Thomas. Kaki kirinya terangkat ke atas menekuk sejajar dengan kaki Thomas yang dipeganginya dengan tangan kirinya. Pantatnya bergerak-gerak cepat maju mundur. Kontolnya yang besar dan mengkilat karena basah, keluar masuk lobang pantat Thomas yang sempit. Keduanya mengerang-erang dan meracau tertahan. Mungkin takut suara erangan mereka terdengar keluar. Kalo kedengaran emang bahaya. Soalnya isi rumah kan lagi rame. 

“Mas Randyhhh oohhh.. Mashhhh enjot yang kerasshh Mashhh...,” kata Thomas. 

“Iyah Thomasshhh hehhh heehhhh... rasakan inihh...,” 

“Ohhhh... enak banget Masshhh... ohhh.... Mas Randyhh doyan yahhh sama pantat Thomashhsshhhh.. ahhh... ahhh.. doyan yahh..?” 

“Doyan banget Thomasshhh.. doyan bangethhh...Mas Randyhh mau entotin Thomasshh tiap hari dehh.. ohhhh..,” 

“Ohhhh...ohhh... terus Mbak Taniahh ssshhhh gimanahh ? Ssshhh..,” 

“Mbak Taniah kalo malem.. ohhh... Thomashhh siang-sianghhhssss..,” 

“Thomasshhh pengennyahh malemmm shhh..,” 

“Iya Thomas malem jugah ahh ahhh ahhh, kalo Mbak Taniah udah tidur ah ah ah,” 

Andre jadi terangsang dengar percakapan dan lihat pergumulan mesum kakak dan sepupunya itu. sama seperti ketika ia pertama kali melihat pergumulan cabul itu. Resleting celana panjang hitamnya diturunkan. Dikeluarkannya kontolnya dari balik celana dalam putihnya. Kontol itu digenggamnya dan dikocok-kocok perlahan. 

“Mashhhh ohhhh Masshhhhh......kontol Mas Randyhh gede bangethhhh ohhhh jembutnya juga lebathhh shhhh..shhh... Thomas suka bangethhh sshhh..,” 

“Kontol Thomassshhh juga Mas Randyhh sukahhh..ssshh ahhh ahhh ahhh,” 

“Tapihhh ahhh shhhh kan masih kecilll sshhhh dan jembutnya tipisshhhh....,” 

“Entar kan gedeh sshhh..shhhh..ahhh ahhhh ahhhh ahhhh,” 

“Kontol Thomasshhh enakhh Mashh? Ahhhh... ahhh... ahhhh..,” 

“Enak banget hhhhhhaahhh.. ahhh....ssshhhh... apalagihhh... ahhh... kalo udahhh sshhhh gedehhh.. ahhh...a ahhh...,” 

“Oooohhh Mashhhh...Mashhhhh kerashhh Mashhh.. lebih kerassshhhhh.. ohhhh..,” 

Suara hentakan pantat Mas Randy semakin keras terdengar oleh Andre. Begitu juga nafas mereka berdua yang mendengus-dengus tertahan dengan keras. ABG ganteng ini jadi semakin terangsang. Kocokan tangan dikontolnya semakin cepat. 

Kembali ke dalam kamar. Thomas tiba-tiba melepaskan kontol Mas Randy dari lobang pantatnya. “Kenapa Thomashhh? Ada apahh?” tanya Mas Randy bingung. 

“Shhh... entot Thomas sambil berdiri Mas. Gendong Thomas ya Mas? Thomas pengen dientot sambil digendong Mas Randy. Kayak dulu Mas Randy sering gendong Thomas,” kata bocah ABG itu tersenyum sayang pada kakak sepupunya yang ganteng dan jantan. 

“Thomas makin pinter ya. Sampe punya ide begitu. Ya udah sini Mas gendong,” sahut Mas Randy sambil tersenyum juga. Ia segera berdiri dan siap menggendong adik sepupunya yang langsing namun cukup atletis itu. 

Dari tempatnya mengintip, Andre bisa melihat Thomas melingkarkan lengannya ke leher kakaknya. Wajah mereka beradu rapat. Bibir mereka menempel, berciuman. Telapak tangan Mas Randy memegang buah pantat Thomas yang putih kemerahan. Buah pantat itu diturunkannya pelan-pelan ke bawah. Kontol Mas Randy masuk sedikit demi sedikit ke lobang pantat Thomas yang terkuak. Membentuk bulatan berwarna kemerahan. 

“Ohhhhhhhhh... Mashhhhhhhhhhh.............,” erang Thomas seiring kontol Mas Randy menembus lobang pantatnya. 

Setelah kontol itu masuk semua dalam lobang pantat Thomas, hingga jembut Mas Randy yang lebat menempel di buah pantat Thomas, dimulailah persenggamaan kembali. Tangan Mas Randy menggerakkan buah pantat Thomas naik turun sambil pantatnya juga bergerak-gerak perlahan. Kontol Mas Randy bergerak keluar masuk lobang pantat sepupunya itu. 

Andre semakin terangsang melihat posisi kakaknya dan sepupunya itu. gerakan pantat dan tangan Mas Randy semakin cepat. Dengusan nafas mereka semakin cepat dan keras terdengar. Andre tak pernah melihat kakaknya itu mengentoti Mbak Tania seliar ini. Apa yang pernah dilihatnya dilakukan oleh Mas Randy saat mengentot Mbak Tania di kamar itu tak lebih dari sekadar saling menindih dan menggerakkan pantat saja. Hingga sperma Mas Randy menyembur di memek Mbak Tania. Gak lebih. 

Tapi Mas Randy mengentot Thomas begitu berbeda. Kakaknya itu kelihatan sangat bernafsu. Ia sangat menikmati sekali bersenggama dengan sepupu mereka yang ganteng itu. 

Andre tak tahan lagi menahan orgasmenya. Apa yang dilihatnya sangat menggairahkan buatnya. Kontolnya segera menyemburkan sperma. Menempel di dinding dan sedikit di jas hitamnya. “Hohhh...hohhh...hohhhh...,” dengus nafas Andre saat orgasmenya datang. Matanya terpejam. Mulutnya menganga. Tubuhnya keringatan. 

Sementara di dalam kamar, persetubuhan masih terus berlangsung. Mas Randy rupanya ingin menyetubuhi Thomas lebih intens lagi. Tubuh Thomas kini dirapatkannya ke dinding. Punggung Thomas menekan di dinding itu. Dengan begitu Mas Randy dapat menyodok lobang pantat Thomas semakin cepat dan keras. Nafas Mas Randy terengah-engah saat menggenjot pantatnya dengan cepat dan keras. 

“Ohh.. ohhh...ohhh...ohhh...ohhh... Thomasshhhhh..Masshhh Randyhhh samapaihhh...ahhh...ahhh..,” erang Mas Randy tertahan. Pantatnya mengehntak keras menekan kontolnya dalam-dalam ke lobang pantat Thomas. Tubuhnya bergetar. Pantatnya mengempot. Spermanya menyembur dalam lobang pantat Thomas. Andre yang masih tetap mengintip, melihat pantat kakaknya itu mengkilap karena keringat. Mulut Mas Randy melumat bibir Thomas dengan buas. Setelah beberapa saat berciman keduanya tertawa kesenangan. Puas dengan persetubuhan yang baru saja mereka lakukan. 

Lalu Mas Randy menggendong tubuh Thomas ke atas ranjang. Membaringkannya disana, bersisian dengannya yang juga berbaring telentang dengan nafas terengah-engah. Mereka tetap saling emmandang dan tertawa-tawa. Thomas mengangkat kedua pahanya ke atas. Dia sibuk emmeriksa lobang pantatnya yang belepotan sperma Mas Randy. Dengan jari-jarinya dilumurinya sperma Mas Randy merata ke seluruh pantatnya, juga ke buah pelir dan batang kontolnya. Daerah yang dilumurinya sperma itu terlihat mengkilap jadinya. 

“Mas Randy, Thomas masih sempat gak buat ngentotin Mas Randy sekarang?’ tanyanya. Mas Randy melihat jam tangannya. 

“Masih dong Thomas. Baru jam setengah sembilan kok. Mau dimulai sekarang?” tanya Mas Randy. 

“Kalo Mas Randy ngijinin,” katanya. 

“Diplomatis banget sih ngejawabnya,” Mas Randy tertawa. “Mau gaya apa? Dimulain aja sekarang. kalau liat-liatan terus, entar waktunya habis,” kata Mas Randy. 

Thomas berpikir sejenak. Memikirkan model persenggamaan yang akan dilakukannya bersama Mas Randy. Andre yang sedang mengintip jadi gak sabaran. “Ngapain sih Thomas mikir gitu aja lama,” gerutunya. 

“Thomas pengen Mas Randy ngerokok sambil dientotin ama Thomas?” 

“Haa?” Mas Randy terkejut. “Kok gitu sih?” 

“Iya, pengennya gitu. Ayo dong Mas,” kata Thomas dengan kekakanakan. 

“Dasar deh. Thomas kebanyakan nonton bokep ya. Samapai fantasinya sejauh itu,” sahut Mas Randy. Tapi tak urung dilakukannya juga kemauan adik sepupunya itu. Mas Randy memang perokok. Segera dinyalakannya rokok dan diselipkannya di bibirnya yang tipis. “Trus gimana nih?” tanya Mas Randy. Andre sudah tak sabar pengen ngelihat model entotan versi Thomas ini. 

“Mas Randy duduk di kursi situ,” katanya. Mas Randy kemudian duduk di kursi yang ada di kamarnya. Thomas melebarkan kedua paha Mas Randy ke kiri dan ke kanan, diatas pegangan kursi itu. Paha Mas Randy jadi mengangkang lebar. Belahan pantatnya jadi terkuak lebar. Mempertontonkan lobang pantatnya yang berbulu, menantang birahi Thomas. Mas Randy menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian meniupkan asapnya yang tebal ke wajah ganteng Thomas. 

Thomas langsung mencium bibir Mas Randy. Berbagi sisa asap yang masih mengepil dari mulut kakak sepupunya yang ganteng itu. kemudian dia menatap belahan pantat Mas Randy yang menganga. Dalam pandangannya belahan pantat Mas Randy jadi begitu indah. 

Sekejap kemudian wajahnya sudah bersarang di belahan pantat itu. menjilat-jilat dan menyeruput lobang pantat itu dengan buas. 

“Hsssshhhhhh... Mas Randyyhhhh... Thomas suka banget dengan lobang pantat Mas inihhh sshhhhh.....sruppp..,” katanya sambil terus bekerja keras mengerjai lobang pantat Mas Randy. Andre yang mengintip, kembali bangkit birahinya melihat aski sepupunya itu. Tangannya kembali mengocok kontolnya. 

Mas Randy terus merokok sambil merem melek keenakan dikerjai Thomas. Kontolnya berdiri tegak ke atas. Ia terpaksa mengangkat jasnya ke atas agar tak kena dengan kontolnya sendiri. Ia kuatir precumnya akan menodai jas pengantinnya itu. 

Setelah beberapa menit Thomas merasa cukup mengerjai lobang pantat Mas Randy. Ia kemudian berdiri di hadapam kakak sepupunya yang terus merokok. 

“Bagi rokoknya dong Mas,” kata Thomas. 

“Ehhh.. anak kecil mau merokok. Gak boleh. Yang boleh Thomas isep cuman rokok Mas Randy ini aja,” katanya sambil mengacung-ngacungkan kontol besarnya yang tegak. Thomas tertawa lucu mendengar kata-kata Mas Randy. Mulutnya mencium lagi bibir Mas Randy. Sekaligus menghirup asap rokok dari mulutnya. 

Kemudian ia menekuk kakinya sedikit. Kontolnya diarahkannya ke lobang pantat Mas Randy. Kontol itu kemudian amblas ke dalam lobang pantat Mas Randy membuat pria yang akan segera menikah ini mengerang tertahan. 

Thomas mulai menggenjot pantatnya maju mundur. Kontolnya keluar masuk lobang pantat Mas Randy. Sementara di luar kocokan kontol Andre mulai bertambah cepat. Ia mendesah-desah keenakan. 

Pantat Thomas pun bergerak semakin cepat. Ia melenguh-lenguh keenakan. Mas Randy mengerang-erang sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Akhirnya entotan Thomas mencapai akhir juga. pantatnya bergerak sangat cepat dan menghentak-hentak beberapa kali untuk kemudian terhenti mendadadak. Pantatnya itu menekan kuat ke selangkangan Mas Randy. Spermanyapun menyembur deras membasahi seluruh lorong lobang pantat Mas Randy. 

“Mas Randy mau dikeluarin sekali lagi?” tanya Thomas lirih. Wajahnya merah bersimbah keringat. 

“Iya.. iya...ahh..,” kata Mas Randy. Meski merasa tubuhnya lemas, Thomas segera mengocok kontol kakak sepupunya itu dengan tangan kanannya. Kontolnya masih tetap bersarang dalam lobang pantat Mas Randy. Nafas Mas Randy tersengal-sengal. Asap rokok menghembus cepat dari mulut dan hidungnya. 

Andrepun mengocok kontolnya semakin cepat. Orgasmenya akan datang sekali lagi. 

“Ohhhhh...ohhhhh....ohhhh....oohhhhh.....yahhh....Thomasssshhhhhhhhh...ahhhhhhh..,” erang Mas Randy panjang. Suaranya ditahannya sekuat tenaga. Tubuhnya kelojotan. Thomas segera menundukkan kepalanya. Tubuhnya membungkuk. Andre tak percaya Thomas bisa membungkuk seperti itu. padahal kontolnya masih tertanam di lobang pantat Mnas Randy. Menunduknya Thomas ini untuk memasukkan kepala kontol Mas Randy dalam mulutnya. Ia tahu kakak sepupunya itu akan segera orgasme. Kalu ia tak menutup kepala kontol itu dengan mulutnya, maka sperma Mas Randy akan menyembur ke atas dan membasahi jas hitam mereka. 

Sperma Mas Randy menyemprot deras di dalam mulut Thomas. Sepupunya yang masih ABG itu berusaha sebisanya menelan seluruh sperma itu. Namun karena sperma yang muncrat terlalu banyak, Thomas tak bisa menelan seluruhnya. Sebagian meleleh keluar dari mulut Thomas, mengalir turun dari batang kontol Mas Randy ke bawah, membasahi jembutnya yang hitam dan lebat. 

Di luar Andrepun orgasme kembali. Spermanya kembali membasahi dinding yang ada didepannya. Menambahi jumlah sperma miliknya yang tadi juga sudah menempel disitu. 

Setelah memastikan orgasme Mas Randy usai, Thomas melepaskan mulutnya dari kakak sepupunya itu. keduanya kemudian saling memandang dan tersenyum. Untuk kemudian tertawa dengan wajah masih memerah dan bersimbah keringat. 

“Sssshhhhh...enak banget Thomasshhh..,” kata Mas Randy sambil menghembuskan asap rokok terakhirnya. Puntung rokoknya dibuangnya ke asbak rokok yang tadi diletakkannya di bawah kursi. “Kamu makin pinter aja Thomasshh,” katanya mencubit pipi asik sepupunya itu. 

Beberapa saat mereka tetap dalam posisi seperti itu. Thomas belum mau juga mencabut kontolnya dari lobang pantat Mas Randy. Nafas mereka masih terengah-engah. 

Setelah lima menit berlalu, Mas Randy beringsut. Thomas mencabut kontolnya dari Mas Randy. “Kita harus mandi lagi nih Thomas,” kata Mas Randy. Keduanya kemudian melepaskan jas hitam mereka. Dari luar Andre bisa melihat kemeja putih, dalaman jas mereka, basah kuyup. Kaos dalam mereka terlihat jelas jadinya. 

“Mas Randy, harus buru-buru nih. Udah hampir jam setengah sepuluh,” kata Thomas. 

“Iya. Makanya cepetan mandi,” kata Mas Randy. 

Kemeja basah mereka letakkan di kipas angin yang dihidupkan. Paling tidak kemeja itu akan sedikit kering jadinya oleh angin yang berhembus dari kipas angin. Dengan tubuh telanjang bulat Mas Randy dan Thomas segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi kakak Andre itu. 

Suara shower segera terdengar dari dalam kamar mandi. Andre segera berlalu dari tempatnya mengintip. Tak ada lagi yang perlu diintipnya di kamar Mas Randy. Kakak dan sepupunya itu pasti sedang kelabakan sekarang, emmebereskan diri untuk bersiap-siap mengikuti acara pemberkatan. Andre meninggalkan kamar kakaknya itu tanpa merasa perlu untuk membersihkan dulu spermanya yang menempel di dinding. Dibiarkannya saja begitu. 

Pemberkatan pernikahan Mas Randy dan Mbak Tania dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Kakaknya dan sepupunya, Thomas, dilihat Andre sudah rapi kembali saat mereka bersiap berangkat ke gereja. Didalam mobil saat berangkat ke gereja Andre sempat meraba punggung sepupunya itu. dirasakannya punggung Thomas masih lembab. Rupanya kemejanya dan juga jasnya tidak kering sempurna. 

“Elo kemana tadi? Gue cariin gak ketemu?” Andre menyempatkan bertaya pada sepupunya itu dalam mobil. 

“Mas Randy minta tolong dirapihin pakaiannya tadi,” sahut Thomas tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia merasa Andre tak tahu apa yang terjadi padanya dan Mas Randy. 

“Oooo. Ada-ada aja Mas Randy, udah segede itu gak bisa rapihin pakaian sendiri,” celetuk Andre mendengar jawaban Thomas. Sepupunya itu tak menjawab lagi. Diam saja, dan pura-pura memandang lurus ke arah depan. Ke jalan raya yang padat kendaraan. Sementara Andre tertawa sendiri dalam hati. 


Tamat